Menggunakan theme baru
Tinggal 32% lagi theme ini jadi (berarti baru 68% dong)

Dinar Irak, Analisis Dari Orang Bodoh

Dikirim: January 20th, 2008 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary, Opini | 77 Komentar »

111507-0119-dinarirak14 Mungkin bahasan seperti ini terlihat basi, tetapi hingga saat ini masalah dinar irak tetap menjadi topik hangat. Saya mendengar masalah ini kemarin saat  berbincang-bincang  dengan teman di kantor, katanya ini merupakan cara paling tepat untuk menjadi kaya hehehe. Apa iya? Konon, dinar irak saat ini dijual dalam bentuk paket berisi 41.800 dinar Irak dengan harga yang sangat bervariasi, dari mulai Rp. 900.000 hingga Rp. 2.500.000. Silakan saja Anda ketik di google dengan kata kunci "dinar irak", maka akan muncul ratusan situs penjual dinar irak :) ) Salah satunya muncul yang ini :d Terus saya comot deh salah satu gambar dinar Irak-nya yang paling mahal … Kai … minta ijin ya ;)

Baca Selengkapnya »


Laptop Buat Anggota DPR? 21 Juta?

Dikirim: March 23rd, 2007 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 19 Komentar »

Sebetulnya saya malas menulis dan menanggapi berita-berita yang selalu saja dibuat para anggota dewan yang satu ini. Hanya untuk perkara yang satu ini kok rasanya gatal untuk tidak menanggapinya, apalagi setelah membaca salah satu berita pada detik.com berjudul Merek dan Spesifikasi Laptop Anggota DPR Masih Dirahasiakan. Berikut saya kutip pernyataan Sekjen DPR, Faisal Jamal:

Baca Selengkapnya »


Kritik Buat Pendidikan di Indonesia

Dikirim: December 22nd, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 31 Komentar »

Menarik sekali membaca tulisan Adi W. Gunawan berjudul Born to be a Genius but Conditioned to be an Idiot dan Sekolah Dirancang Untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal. Kedua tulisan ini benar-benar bisa menggambarkan mengapa sistem pendidikan sekolah di Indonesia tidak bisa menghasilkan SDM yang diharapkan. Saya sendiri sering berdiskusi mengenai hal ini bersama teman-teman sejawat, waktu itu saya hanya punya keyakinan bahwa kegagalan sistem pendidikan di Indonesia karena terlalu banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai selama 12 tahun sekolah. Selain itu juga mutu guru yang lebih memilih metoda “menanamkan rasa takut” kepada siswa-siswinya agar mau belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah. Selebihnya adalah kurangnya praktek di kelas dasar dan menengah mengenai bagaimana berbicara dan mengemukakan pendapat dengan baik dan benar.

Baca Selengkapnya »


E=mc^2

Dikirim: August 3rd, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | Belum Ada Komentar »

Beberapa hari yang lalu saya berbicang-bincang dengan rekan kantor dimana saya bekerja. Dia menjelaskan bahwa ada rumusan sederhana yang bisa dipegang untuk menjadi pemenang dalam iklim usaha yang semakin kompetitif saat ini. Apakah itu ? Jawabnya sungguh di luar dugaan, E=mc^2 ! Bagaimana bisa ?

E adalah Energi atau bisa diartikan sebagai sebuah kekuatan. Sebuah usaha tidak akan berhasil jika si pelaku usaha tidak memiliki kekuatan –ini semua orang sudah tahu. Yang menjadi masalah adalah komponen apa yang cocok untuk membangun kekuatan di jaman seperti ini ? Jawabnya adalah Management(m), Computer and Communication(c^2). Mmmm, boleh juga ;)


Antri … antri

Dikirim: August 1st, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | Belum Ada Komentar »

Saya sering heran plus dongkol melihat orang yang nggak mau antri. Heran karena hal itu dilakukan oleh orang tanpa rasa malu, dan dongkol karena kejadian seperti ini sering sekali terjadi. Kenapa yah budaya antri kok susah sekali menjadi budaya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang (katanya) santun dan ramah-tamah.

Bisa jadi, karena tidak mau antri untuk mendapat giliran rejeki maka seseorang akan menyelak antrian rejeki orang, itu sebabnya korupsi susah diberantas. Indonesia … Indonesia, gimana lo bakal bisa maju ? Antri ajah nggak bisa menjadi budaya …


McDonald dan 60″

Dikirim: July 28th, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 2 Komentar »

Salah satu alasan paling utama kenapa saya sering makan McDonald adalah layanan 60″ nya. Menurut saya, layanan ini adalah langkah besar McDonald yang membuatnya terlihat lain dari fastfood-fastfood yang ada. Sesuai namanya, fastfood, maka senang rasanya ketika pesanan kita datang dalam waktu 60″ sehinga antrian panjang seperti apa pun akhirnya tidak membuat kita kesal. Saya atau istri paling rajin memutarnya hourglass yang disediakan dan meminta pinalti ketika pesanan datang melebihi 60″. Sayang ….. entah kenapa layanan ini sekarang hilang :)

Service cepat yang dulu saya sukai sekarang hilang. Jadi, selamat untuk McDonald, karena Anda saat ini sudah kehilangan satu pelanggan setia atau dua dengan istri saya.


Hukum vs Takhyul

Dikirim: February 18th, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 2 Komentar »

Kenapa hukum nggak pernah tegak di Indonesia ? Kalau sering jalan-jalan, pasti sering lihat tanda larangan seperti “Dilarang Membuang Sampah Disini” atau “Dilarang Berjualan Disini”. Apa yang terjadi dengan larangan itu ? Jarang sekali dipatuhi, yang terjadi adalah pelanggaran di sekitar papan tersebut. Bandingkan dengan larangan tidak tertulis ketika kita pergi naik gunung seperti “Jangan ngomong jorok” atau “jangan kecing di sembarang tempat”. Apa yang terjadi ? Jarang bahkan hampir tidak ada yang berani melanggar larangan tidak tertulis tersebut. Aneh yah ?

Makanya, agar program atau CD tidak dibajak, jangan tuliskan UU pembajakan berikut sanksi hukum yang akan didapat, tapi tuliskan saja “Barang siapa yang melakukan pembajakan terhadap CD ini (atau program ini), maka segala kesialan dan laknat akan menimpa Anda dan seluruh keluarga Anda 7 turunan!”. Nah loh …. silakan Anda jujur pada diri Anda sendiri, mana yang lebih Anda takuti ? UU atau takhyul ?


Komentar Buat Bp. Bambang

Dikirim: February 9th, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 3 Komentar »

Sedih rasanya ketika mendengar menteri pendidikan kita, Bp. Bambang Sudibyo dalam acara Lepas Malam tanggal 9 Pebruari 2005 yang mengatakan bahwa salah satu yang membuat mutu pendidikan kita mundur adalah karena para peserta pendidikan umumnya datang dari masyarakat akar rumput. Mmm, apa iya begitu Pak ? Ketika Farhan sebagai pembawa acara mengatakan, “Bukankah Bapak sendiri adalah anak petani ?”, yang dengan kata lain pak Bambang itu juga berasala dari masyarakat akar rumput. Dengan bangganya pak Bambang bilang, “Biar anak petani tetapi Bapak saya adalah Lurah, artinya saya datang dari kaum elitis”. Ck .. ck .. ck :(

Baca Selengkapnya »