Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Pocong

Dikirim: December 21st, 2012 | Oleh: | Kategori: Nostalgia | 4 Komentar »

Ada banyak kenangan sekitar tahun 90 awal saat tinggal di kost sekitar Petukangan Jakarta. Kala itu, kawan kuliah saya, Andi Kalung, kami dandani mirip sekali dengan pocong. Incarannya tak lain adalah seorang kawan yang sudah terlelap tidur.

Kami dandani dia dengan bedak sehingga nampak seram. Apalagi dibawah lampu yang remang-remang. “Kalungnya dibuka Ndi,” usul saya kepada Andi. Kawan ini senang sekali menggunakan kalung, itu sebabnya kami memanggilnya Andi Kalung. “Masa pocong pakai kalung?” lanjut saya sambil tertawa.

Dengan modal tampang berbedak dan sarung melilit di kepalanya, kami bersiap melakukan adegan horor yang pasti sangat seru. Kamar Rury yang menjadi incaran letaknya ada di lantai bawah. Andi turun tangga dan kami pun tak sabar membayangkan apa yang terjadi.

Baca Selengkapnya »


Jalan Kuningan

Dikirim: December 13th, 2012 | Oleh: | Kategori: Nostalgia | 1 Komentar »

Lebih dari 30 tahun yang lalu, saat diajak jalan-jalan keliling Jakarta oleh Paman bungsu dari Ayah. Saya melihat Jalan Kuningan Jakarta yang masih sepi dimalam hari. Lampu jalannya berwarna kuning membuat saya takjub. Lampu seperti itu membuat warna baju nampak berbeda. Dan tentu, lampu seperti ini belum ada di Bandung kala itu.

Paman saya bilang, “Garta.” begitulah panggilan saya di keluarga.¬†“Nama jalan ini Kuningan, karena lampunya kuning.” Saya tak terlalu memperhatikan wajah Paman saat mengatakan itu karena sedang asik melihat lampu-lampu kuning yang berjejer banyak di sepanjangn jalan. Melalui jendela mobil yang melaju, saya nikmati fenomena lampu itu yang memiliki efek lucu pada warna baju yang saya kenakan.

Baca Selengkapnya »


Kipas Angin 17 Tahun

Dikirim: November 8th, 2012 | Oleh: | Kategori: Nostalgia | 2 Komentar »

Sekitar tahun 1995, saya membeli kipas angin ini dengan uang gaji pertama untuk membuat sejuk kamar kos di sekitar Petukangan Jakarta yang panas. Bersama Yuliazmi26648_4463648902648_359637264_n, kami membelinya di salah satu toko elektronik kecil kawasan Kreo. Kipas¬†dengan merk tidak jelas dan dengan harga Rp. 50.000 sebagai hasil tawar menawar. “Kalau dibuka, putarnya ke kanan ya, jangan ke kiri,” kata-kata penjual yang selalu saya ingat hingga kini.

Kipas ini terus menemani hingga saya menikah. Bekerja terus menerus dan terkadang tanpa henti. Berputar dari pagi hingga pagi. Jadi alangkah sedihnya saat semalam melihat kipas ini tak sanggup memutar baling-balingnya.

Pagi tadi, saya bongkar kipas angin itu. Lalu saya semprotkan WD40 beberapa kali pada dinamonya. Dan ternyata WD40 itu memang luar biasa manjur! Kini kipas kembali berputar dengan lancar melanjutkan pekerjaannya di tahunnya yang ke-17.

Luar biasa kualitas kipas dengan merk yang tak jelas ini.