<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>
<channel>
	<title>Catatan &#187; Buah Pena</title>
	<atom:link href="http://riyogarta.com/category/buah-pikiran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riyogarta.com</link>
	<description>Blognya Riyogarta, mencatat apa yang perlu dicatat</description>
	<lastBuildDate>Sat, 11 Feb 2012 01:24:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>in</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tigapuluh Empat!</title>
		<link>http://riyogarta.com/2006/04/18/tigapuluh-empat/</link>
		<comments>http://riyogarta.com/2006/04/18/tigapuluh-empat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Apr 2006 03:20:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riyogarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buah Pena]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://riyogarta.com/2006/04/18/tigapuluh-empat/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Satu tahun telah kau lewati lagi,&#8221; sapanya. Lagi-lagi, dan aku masih saja seperti dulu. &#8220;Pernahkah kau berpikir untuk mulai mengubah semua yang telah kau lewati?&#8221; Tentu. Aku akan mengubahnya, mengubahnya untuk menjadi semakin baik. &#8220;Ya, kau masih seperti yang dulu. Sosok yang keras kepala, selalu menggebu dan selalu ingin melakukan perubahan dimana pun.&#8221; Aku ingat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Satu tahun telah kau lewati lagi,&#8221; sapanya. Lagi-lagi, dan aku masih saja seperti dulu. &#8220;Pernahkah kau berpikir untuk mulai mengubah semua yang telah kau lewati?&#8221; Tentu. Aku akan mengubahnya, mengubahnya untuk menjadi semakin baik.</p>
<p>&#8220;Ya, kau masih seperti yang dulu. Sosok yang keras kepala, selalu menggebu dan selalu ingin melakukan perubahan dimana pun.&#8221; Aku ingat sekarang, siapa dirimu. &#8220;Tentu, dan kau tidak akan pernah lupa meskipun sesekali kau terlalu sombong untuk mengingat siapa diriku.&#8221; Tidak. Aku bukan sombong, aku hanya ingin mencari, mencari sesuatu yang selalu kucari. &#8220;Dan kau telah mendapatkannya?&#8221; Mungkin. Mungkin aku telah mendapatkannya kembali, tetapi aku ragu, apakah ini yang selama ini kucari.</p>
<p>&#8220;Ragu. Yah, mungkin itulah yang selalu kau takuti. Bahkan ketika segala sesuatu telah jelas di depan mata, kau selalu ragu. Kau selalu berpangku diatas logika. Sampai kapan kau percaya dengan apa yang selalu kau banggakan?&#8221; Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya yakin bahwa segala yang telah kulewati selalu mempunyai dampak positif.</p>
<p>&#8220;Kau yakin dengan apa yang telah kau pegang?&#8221; Hatiku bergetar. &#8220;Kau yakin telah menemukannya kembali?&#8221; Insya Allah. Apa yang selalu kucari mulai terlihat jelas. Aku tidak akan ragu lagi, aku harus semakin kuat dan aku akan selalu bersamamu.</p>
<p><em>Terimakasih ya Allah atas nikmat yang telah kau berikan selama ini. Dan maafkan ya Allah, atas segala dosa hambamu ini. Amin.<br />
</em></p>
<div id="stickies-count" style="display: none">0</div>
<div style="display: none" id="stickies-count">0</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyogarta.com/2006/04/18/tigapuluh-empat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proposal Buat Tuhan</title>
		<link>http://riyogarta.com/2005/12/15/proposal-buat-tuhan/</link>
		<comments>http://riyogarta.com/2005/12/15/proposal-buat-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2005 10:34:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riyogarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buah Pena]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://riyogarta.com/index.php/2005/12/15/proposal-buat-tuhan/</guid>
		<description><![CDATA[Bapak itu duduk di depanku setelah selesai menjalankan shalat maghrib. Kopiah yang sedari tadi menempel di kepalanya, dilepas dan ditaruhnya di atas meja. &#8220;Pak,&#8221; sapa saya membuka pembicaraan. &#8220;Saya sering berdoa dan rasa-rasanya kok hanya sedikit sekali doa yang saya panjatkan itu dikabulkan.&#8221; Bapak itu tersenyum, &#8220;Kamu pernah membuat sebuah proposal untuk suatu kegiatan?&#8221; &#8220;Tentu,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bapak itu duduk di depanku setelah selesai menjalankan shalat maghrib. Kopiah yang sedari tadi menempel di kepalanya, dilepas dan ditaruhnya di atas meja. </p>
<p>&#8220;Pak,&#8221; sapa saya membuka pembicaraan. &#8220;Saya sering berdoa dan rasa-rasanya kok hanya sedikit sekali doa yang saya panjatkan itu dikabulkan.&#8221;</p>
<p>Bapak itu tersenyum, &#8220;Kamu pernah membuat sebuah proposal untuk suatu kegiatan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu,&#8221; jawab saya dengan bangga.</p>
<p>&#8220;Saya ingin tanya kepada kamu. Bagaimana sebuah proposal itu bisa diluluskan atau disetujui oleh penerima proposal ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mmm, yang jelas proposal tersebut haruslah berisi hal-hal yang sifatnya bisa atau mungkin dilakukan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Proposal yang realisitis. Begitu maksud kamu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul Pak.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya ada hal-hal lain yang harus kamu perhatikan ketika kamu membuat sebuah proposal. Misalnya, tata cara penulisan yang baik dan benar dengan bahasa yang mudah dimengerti. Proposal juga harus jelas tujuannya, kebutuhannya dan untung ruginya. Tanpa ini semua, jangan harap proposal kamu diterima.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya sih Pak. Hanya kembali kepada pertanyaan saya di awal. Kenapa tidak semua doa saya dikabulkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kamu tidak membuat proposal dengan baik.  Doa itu adalah proposal rencana kegiatan yang akan kita lakukan kepada Tuhan. Tuhan akan menerima proposal kita, jika proposal kita itu realistis, jelas tujuannya, jelas kebutuhannya, jelas untung ruginya dan disampaikan dengan aturan main yang sudah ditetapkan,&#8221; jawabnya lalu mengambi kopi panas yang sudah disiapkan sejak tadi. </p>
<p>&#8220;Maksud Bapak, doa itu layaknya sebuah proposal ? Harus realisitis, jelas tujuannya, jelas kebutuhannya, jelas untung ruginya dan disampaikan dengan cara yang baik,&#8221; tanya saya meyakinkan apa yang saya tangkap dari pembicaraan yang disampaikan Bapak itu.</p>
<p>&#8220;Dengan cara yang sesuai dengan aturan mainnya. Itu lebih tepat.&#8221; Ditaruhnya cangkir kopi panas yang baru saja dicicipinya itu di atas meja. &#8220;Kopinya enak,&#8221; katanya dengan senyum yang khas. Senyum dari seorang yang sudah banyak makan asam garam di dunia ini, senyum yang menampakkan ketenangan jiwa yang luar biasa.</p>
<p>&#8220;Nak, ikuti cara-cara orang sukses membuat proposal sehingga proposalnya diterima. Ikuti bagaimana Rasulmu membuat proposal dan menyampaikannya pada sang Khalik. Insya Allah Nak, proposalmu, cepat atau lambat akan diterima-Nya. Yang jelas, proposal yang kamu buat haruslah realistis, jelas dan mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan-Nya.&#8221;</p>
<p>Ya ya ya, proposal buat Tuhan. Kenapa tidak pernah terpikirkan oleh saya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyogarta.com/2005/12/15/proposal-buat-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bola Hitam &amp; Bola Putih</title>
		<link>http://riyogarta.com/2005/12/09/bola-hitam-bola-putih/</link>
		<comments>http://riyogarta.com/2005/12/09/bola-hitam-bola-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2005 14:24:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riyogarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buah Pena]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://riyogarta.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Banyak sekali hal yang tidak bisa kita duga, asal, mengapa, bagaimana dan apa tujuannya. Terkadang teka-teki hidup bisa terjawab seketika, tetapi tidak sedikit misteri itu tetap menyelimuti hingga batas yang tidak dapat dipastikan. ~Riyogarta, 2005 Ari, begitulah nama panggilannya. Dia adalah anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang bahagia. Bapaknya adalah seorang yang terpelajar dan memiliki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><i>Banyak sekali hal yang tidak bisa kita duga, asal, mengapa, bagaimana dan apa tujuannya. Terkadang teka-teki hidup bisa terjawab seketika, tetapi tidak sedikit misteri itu tetap menyelimuti hingga batas yang tidak dapat dipastikan. </i>
<p align="right">~Riyogarta, 2005</p>
<p>Ari, begitulah nama panggilannya. Dia adalah anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang bahagia. Bapaknya adalah seorang yang terpelajar dan memiliki kekayaan dari hasil warisan orang tuanya. Ibunya adalah seorang wanita karier yang sangat sukses. Kedua orang tua Ari sangat sayang padanya. </p>
<p>Suatu hari, Ari terlihat termenung memperhatikan sepatu yang digunakan teman TK-nya. Ibunya yang sempat melihat hal ini menjadi terenyuh dan ingin membelikan Ari sepasang sepatu untuknya. &#8220;Ari mau sepatu seperti yang dipakai Andre?&#8221; tanya Ibunya. </p>
<p>&#8220;Nggak Bu,&#8221; katanya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.</p>
<p>&#8220;Lho, nggak apa-apa Ari, Ibu bisa kok membelikan sepatu seperti itu. Bahkan kalau Ari mau yang lebih bagus dari itu, Ibu juga bisa belikan.&#8221;</p>
<p>Ari menggelengkan kepalanya. &#8220;Nggak ah Bu. Kalau Ibu memang punya uang, Ari minta dibelikan bola berwarna hitam dan putih saja.&#8221;</p>
<p><span id="more-44"></span></p>
<p>&#8220;Untuk apa bola hitam dan putih Ari ? Kamu tidak senang dengan sepatu bagus yang dipakai oleh Andre teman sekelasmu?&#8221;</p>
<p>Ari menggelengkan kepalanya, &#8220;Ari bukannya nggak senang sama sepatunya Andre. Ari senang kok kalau Ibu mau belikan sepatu seperti itu. Tapi Ari juga minta dibelikan bola hitam dan bola putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke deh. Ibu belikan dua-duanya ya ?&#8221;</p>
<p>Begitulah yang terjadi, pulang sekolah Ibunya langsung mengantarkan Ari untuk membeli sepatu yang jauh lebih bagus dibandingkan sepatu Andre teman kelasnya. Sesudah itu, meskipun agak sulit mencarinya, akhirnya Ari juga mendapatkan bola hitam dan bola putih yang dijanjikan Ibunya. Ari begitu senang dengan apa yang dibelikan Ibunya hari itu. Sepatunya langsung dipakai sementara bola hitam dan bola putihnya dia taruh di kamar dan tak pernah disentuhnya lagi.</p>
<p>5 tahun kemudian, ketika Ari sudah kelas 4 SD, Ayahnya ingin sekali membelikanya sepeda. Ayahnya ingin sekali melihat anaknya bermain sepeda dengan anak-anak di kompleks tempat tinggal mereka. Kala itu, sepeda BMX adalah sepeda impian anak-anak seumuran Ari.</p>
<p>&#8220;Ayah belikan sepeda seperti punya Dani yah ?. Mau ?&#8221;, tanya Ayahnya kepada Ari yang saat itu memang sedang memperhatikan sepeda BMX punya Dani anak tetangga sebelah rumah.</p>
<p>&#8220;Ari nggak mau Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho ? Kenapa ? apa kamu ingin sepeda yang lebih bagus dari punya Dani ? Ayah bisa kok membelikan sepeda BMX yang lebih bagus dan asli buatan Amerika,&#8221; kata Ayahnya bangga.</p>
<p>&#8220;Ari sebenarnya bukan nggak mau sepeda BMX seperti punya Dani Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu ?&#8221; tanya Ayahnya agak bingung.</p>
<p>&#8220;Tapi Ari kalau boleh memilih mau dibelikan apa, Ari lebih memilih dibelikan dua buah bola, warna hitam dan warna putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh begitu. Tapi seingat Ayah, kamu pernah dibelikan Ibu bola hitam dan bola putih 5 tahun yang lalu ketika kamu dibelikan sepatu. Sekarang Ayah lihat bola hitam dan bola putih itu masih tetap ada di lemari kamar kamu, dan juga kamu nggak pernah memainkannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya Ari ingin dibeliin bola hitam dan bola putih ajah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke oke. Ayah belikan sepeda BMX, bola hitam dan bola putih yah ? Gimana ?&#8221; tanya Ayahnya. Ari menanggukan kepalanya dan tersenyum senang.</p>
<p>Esok harinya, Ari pergi dengan Ayahnya untuk membeli sepeda BMX dan dua buah bola hitam dan putih. Sesampainya di rumah, bola hitam dan bola putih itu ditaruhnya di lemari tempat bola hitam dan bola putih yang 5 tahun lalu dibelikan Ibunya. Setelah itu, Ari pergi bermain menggunakan sepeda BMX barunya bersama teman-temannya.</p>
<p>Ketika Ari menginjak bangku SMP, kedua orang tuanya ingin agar anak satu-satunya yang mereka sayangi bisa bermain gitar. Apalagi mereka sering memergoki Ari sedang melamun sambil memperhatikan Budi bermain gitar.</p>
<p>&#8220;Ari sayang, Ayah dan Ibu akan membelikanmu sebuah gitar. Kamu pasti akan suka,&#8221; kata Ayahnya sambil tersenyum dan berharap anaknya akan menjawab, <i>iya Ari suka</i>.</p>
<p>&#8220;Nggak mau Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh ? Kenapa ? Bukannya kamu sering memperhatikan Budi tetangga depan kita kalau lagi memainkan gitarnya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya. Ari memang suka dengan gitar dan Ari ingin sekali bisa main gitar. Tapi kalau Ari bisa memilih, Ari lebih ingin dibelikan bola hitam dan bola putih,&#8221; katanya datar.</p>
<p>&#8220;Ari,&#8221; kata Ayahnya heran dan sambil berusaha untuk tetap sabar. &#8220;Kok setiap kali ingin kami belikan sesuatu pasti minta bola hitam dan bola putih sih ? Ada apa kamu dengan bola hitam dan bola putih ? Di kamarmu sekarang ini sudah ada dua pasang bola hitam dan bola putih. Itu pun semenjak dibelikan tidak pernah rasanya Ayah dan Ibu melihat kamu memainkannya atau mempergunakannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokoknya Ari mau dibeliin bola hitam dan bola putih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke. Oke.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sabar Yah, sabar&#8221;, kata Ibu menyabarkan Ayah yang sudah terlihat kurang bisa menahan kesabarannya. &#8220;Iya deh Ari. Ibu juga ingin melihat kamu itu bisa main gitar, makanya Ibu dan Ayah ingin membelikan kamu gitar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, Ari mau ajah dibeliin gitar dan Ari juga mau belajar gitar. Tapi Ari minta dibeliin bola hitam dan bola putih juga.&#8221;</p>
<p>Sorenya mereka pergi ke mall dan pulang membawa sebuah gitar yang bagus serta bola hitam dan bola putih. Seperti biasa, bola hitam dan bola putih dia taruhnya di lemari bersama dua pasang bola hitam dan bola putih sebelumnya. Setelah itu, dia pergi ke rumah Budi sambil membawa gitar barunya. </p>
<p>Di bangku SMA, teman-temannya sudah banyak yang menggunakan sepeda motor. Ayah dan Ibunya merasa kasihan melihat anak satu-satunya jalan kaki pergi ke sekolah. </p>
<p>&#8220;Ari, kamu mau sepeda motor apa ? Ayah akan belikan yang kamu suka. Hari ini kan ulang tahun kamu yang ke tujuh belas. Ayo, sebutkan saja, sepeda motor apa yang kamu ingin punya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari ingin bola hitam dan bola putih ajah deh Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya ampun Ari, kamu ini kok tidak berubah juga sih ?&#8221; kata Ayah mulai kesal. &#8220;Kamu selalu minta dua barang itu. Apa sih untungnya bagi kamu itu ? Tiga pasang bola hitam dan bola putihmu yang di rumah itu untuk apa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sabar Yah,&#8221; kata Ibu menenangkan Ayah yang sudah mulai kesal. </p>
<p>&#8220;Oke oke. Kali ini Ayah kabulkan untuk terakhir kalinya. Ayah akan belikan kamu motor dengan bola hitam dan bola putihmu itu,&#8221; kata Ayah cepat sekali seolah sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Ari.</p>
<p>Besok paginya, hari minggu, mereka pergi dan pulang membawa sepeda motor baru dengan dua buah bola hitam dan putih. Bola hitam dan putih langsung Ari masukan dalam lemari, setelah itu dia mencoba motornya dan pergi keliling kompleks.</p>
<p>Tiga tahun kemudian, Ari diterima diperguruan tinggi swasta dan mengambil jurusan mesin. Teman-temanya saat itu sudah mulai mengendarai mobil. Ayahnya ingin sekali membelikan mobil untuk Ari, karena biar bagaimana pun, kedua orang tuanya merasa gengsi melihat anaknya masih naik motor sementara teman-temannya sudah mengendarai mobil.</p>
<p>&#8220;Ari, Ayah mau membelikan kamu mobil tetapi kali ini jangan suruh Ayah beli bola hitam dan  bola putihmu itu&#8221;, kata Ayah membuka pembicaraan dengan sedikit trauma. Bagaimana tidak, bola hitam dan bola putih benar-benar hal yang menyebalkan bagi Ayah, menyebalkan karena tidak pernah jelas apa maksudnya. Kali ini, pikirnya, Ayah tidak akan mau membelikan kamu mobil jika masih bersikeras minta dua benda yang nggak jelas itu.</p>
<p>&#8220;Ari nggak mau Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih tetap bersikeras mau beli bola hitam dan bola putih sebelum Ayah belikan mobil ? Iya ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8221;, kata Ari dengan mantap. &#8220;Kalu Ari boleh milih, Ari ingin dibelikan bola hitam dan bola putih saja. Kalau Ayah nggak mau belikan bola hitam dan bola putih, ya sudah, tidak usah belikan Ari mobil. Ari juga masih bisa naik motor.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke kalau kamu mau begitu. Silakan saja,&#8221; kata Ayahnya kesal dan pergi masuk kamar tidurnya. Di kamar tidurnya Ayah berpikir keras, apa gerangan yang ada di otak anaknya itu. Dari dulu hanya ada bola hitam dan bola putih. Apa maksudnya ? Benar-benar tidak bisa masuk dalam nalar. Uang sebegini banyak hanya minta bola hitam dan bola putih yang harganya nggak seberapa itu. Aneh. Aneh sekali. Ada apa sih dengan bola hitam dan bola putih itu. Ayah merebahkan badannya yang sudah lelah ke tempat tidur, matanya memandang keatas, otaknya terus berputar  memikirkan bola hitam dan bola putih, berpikir terus, hingga tak terasa ia pun tertidur.</p>
<p>&#8220;Ayah, bangun. Ari Yah. Ari,&#8221; suara itu benar benar membuat Ayah bangun dari tidurnya. &#8220;Ari Yah &#8230; Ari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya ada apa dengan Ari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari kecelakaan Yah, motornya ditabrak mobil, sekarang dia ada di rumah sakit Yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari ? Ditabrak ?&#8221; kata Ayah tidak percaya. Ayah segera bangkit dari tempat tidurnya. Pikirannya melayang tidak karuan. Ini pasti gara-gara saya pikirnya. Ari ingin mobil, tapi saya nggak mau membelikannya hanya karena &#8230; aduh, lagi-lagi bola hitam dan bola putih. </p>
<p>&#8220;Ayo Bu, kita kerumah sakit segera,&#8221; kata Ayah mengajak dan berkemas pergi. </p>
<p>Perjalanan menuju rumah sakit ternyata cukup lancar. Ayah mengendarai dengan kecepatan yang lebih dari biasanya. Sekali-kali dia bunyikan klakson, padahal rasanya tidak ada yang menghalangi jalan mobilnya. Tiba di pelataran rumah sakit, Ayah langsung memarkir mobolnya di tempat kosong yang pertama dilihatnya. Setelah parkir, keduanya pun turun dan setengah berlari masuk ke rumah sakit.</p>
<p>Setelah menanyakan kamar gawat darurat di bagian informasi, keduanya segera berlari menaiki tangga karena lift sudah terlalu penuh. Sesampainya di lantai 2, keduanya segera masuk ke kamar gawat darurat dengan sebelumnya menggunakan baju lapis berwarna biru. </p>
<p>Ari terlihat lemah tak berdaya. Tangan kanannya diberi infus yang terus menetes. Terdapat selang oksigen di kedua hidungnya, sementara kepalanya dibalut kain putih dengan warna agak memerah di bagian dahinya. </p>
<p>&#8220;Bagaimana dokter ?&#8221; tanya Ayah dengan nafas masih tersengal-sengal. </p>
<p>Dokter mengelengkan-gelengkan kepalanya, &#8220;Tabah ya Pak, yang sabar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yah, mata Ari terbuka&#8221;, kata Ibu sambil menarik lengan Ayah. &#8220;Ari, ini Ibu &#8230; Ari.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari, ini Ayah, bicaralah Ari. Ayah sayang sama kamu. Ayo bicara &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari, ini Ibu, ayo bicara. Ari kenapa kamu kok bisa begini ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari, ini Ayah, Ari .. ayo sadar Ari. Ayah akan mau membelikan apa saja untukmu asalkan kamu bisa sembuh Ari. Ayo Ari, kamu kuat.&#8221;</p>
<p>Mulut Ari sedikit terbuka, &#8220;Ari &#8230;. i &#8230; ngin &#8230;&#8221;. Multunya tertutup lagi lalu terbuka sedikit, &#8220;bo .. la hi .. tam .. dan &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Cukup Ari, Ayah sudah tahu. Ayah akan belikan bola hitam dan bola putihmu sekarang. Tapi Ari &#8230; aduh Ari. Untuk apa bola hitam dan bola putih itu Ari ? Untuk Apa ? Ayah benar-benar nggak habis pikir sama kamu Ari, buat apa kamu selalu minta bola hitam dan bola putih itu ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ay .. yah. Bo .. la .. it .. tu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Ari &#8230; untuk apa ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bo .. la it .. tu bu .. at &#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Ari ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ari ?&#8221; tanya Ayahnya sambil menggocang-goncangkan badan Ari.  &#8220;Ari ?&#8221;</p>
<p>Dokter segera merangkul Ayah, dan Ayah pun menangis diikuti tangisan Ibu. Ari sudah pergi, pergi untuk selama-lamanya. Terus ? Bola hitam dan Bola putihnya untuk apa ? Auk ah &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyogarta.com/2005/12/09/bola-hitam-bola-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda #2</title>
		<link>http://riyogarta.com/2005/12/06/sepeda-2/</link>
		<comments>http://riyogarta.com/2005/12/06/sepeda-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2005 04:53:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riyogarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buah Pena]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://riyogarta.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan sebelumnya : Sepeda &#8220;Ada satu lagi Pak. kalau boleh saya akan menambahkan perumpamaan Sepeda dengan sebuah kondisi yang lain,&#8221; kataku tiba-tiba. Bapak itu melepaskan tanganya dari pundakku. Alisnya dikerutkan seperti sedang berpikir dengan mata memandang tajam, &#8220;Silakan,&#8221; katanya. &#8220;Sedari tadi Bapak hanya mengatakan ibarat seorang naik sepeda, bagaimana kalau tidak seorang ? Misalnya, seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan sebelumnya :<a href="http://riyogarta.com/?p=33#comments"> Sepeda</a></p>
<p>&#8220;Ada satu lagi Pak. kalau boleh saya akan menambahkan perumpamaan <a href="http://riyogarta.com/?p=33#comments">Sepeda</a> dengan sebuah kondisi yang lain,&#8221; kataku tiba-tiba. </p>
<p>Bapak itu melepaskan tanganya dari pundakku. Alisnya dikerutkan seperti sedang berpikir dengan mata memandang tajam, &#8220;Silakan,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Sedari tadi Bapak hanya mengatakan ibarat seorang naik sepeda, bagaimana kalau tidak seorang ? Misalnya, seseorang naik sepeda sambil memboceng orang lain. Ini akan berbeda dengan kondisi yang Bapak ceritakan di awal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul sekali. Jika suatu hari kamu menaiki sepedamu dan ada orang lain hendak membonceng di sepedamu itu, yang harus kamu lakukan adalah kamu harus memiliki keyakinan. Keyakinan yang lebih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Keyakinan yang lebih ? Maksudnya Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, pertama, kamu harus yakin bahwa kamu akan kuat mengayuh sepedamu dengan beban yang lebih berat karena ada orang yang memboceng di sepedamu.&#8221;</p>
<p>Bapak itu menghela napas dalam, lalu berkata lagi, &#8220;Kedua, keyakinan bahwa kamu akan sanggup menjaga keseimbangan yang lebih baik, karena bukan tidak mungkin orang yang kamu boncengin malah merusak keseimbangan sepedamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi saya bisa bilang pada orang itu untuk turut menjaga keseimbangan,&#8221; kataku memotong pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Itu betul. Tetapi tidak semua orang kamu kasih tahu akan langsung mau menurut bahkan ketika terbukti bahwa sepedamu jatuh gara-gara dia.  Kalau sudah begini maka kamu harus tetap menjaga sepedamu agar tidak jatuh,  kayuh terus dan jaga terus keseimbangan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah &#8230; berat juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak ada yang berat kalau kamu menjalaninya dengan ikhlas. Pemboceng itu bisa jadi adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu, bahkan &#8230; &#8220;, katanya tenang sambil melepaskan kopiahnya dari kepalanya yang sudah putih beruban. &#8220;Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa kamu!&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan jangan lupa,&#8221; lanjutnya lagi. &#8220;Suatu hari ketika kamu sudah tidak kuat lagi mengayuh sepedamu, maka kamu  akan memboceng sepeda yang dikendarai orang lain. Bisa jadi dikendarai oleh adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa saya,&#8221; kataku mendahului.</p>
<p>&#8220;Ya, benar,&#8221; katanya sambil melipat kopiahnya dan ditaruhnya diatas meja. Rambutnya yang sudah memutih di sisirnya dengan jari tangan yang mulai mengeriput dimakan waktu. </p>
<p>&#8220;Nak, hidup itu bagaikan kita mengendarai sepeda. Kamu masih muda, kendarai sepedamu baik-baik, ajari semua orang untuk bisa mengendarai sepeda itu dengan benar.&#8221; </p>
<p>Ya,  Bapak ini benar. Hidup ini benar-benar seperti sebuah perjalanan dengan menggunakan sepeda. Kadang dipaksa harus belok meskipun keinginannya lurus. Kadang dipaksa lurus meskipun keinginannya belok. Ya, inilah hidup. Ikutin saja agar seimbang, kayuh terus agar keseimbangan lebih mudah dijaga, insya Allah apa yang kita inginkan diridhai olehNya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyogarta.com/2005/12/06/sepeda-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda</title>
		<link>http://riyogarta.com/2005/12/04/sepeda/</link>
		<comments>http://riyogarta.com/2005/12/04/sepeda/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2005 09:21:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Riyogarta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buah Pena]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://riyogarta.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Hidup itu seperti sepeda,&#8221; katanya tenang tanpa beban. &#8220;Iya, seperti sepeda. Kamu pasti belum mengerti,&#8221; katanya lagi. &#8220;Maksudnya Pak ?&#8221; &#8220;Kamu bisa naik sepeda ?&#8221; &#8220;Bisa,&#8221; jawabku singkat. &#8220;Bagaimana kamu bisa menjaga keseimbangan mu saat mengendarai sepeda ?&#8221; Maksudnya apa sih ini, menjaga keseimbangan yah begitu, &#8220;Susah dijelaskan Pak, tapi yang jelas kalau saya mengendarai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Hidup itu seperti sepeda,&#8221; katanya tenang tanpa beban.<br />
&#8220;Iya, seperti sepeda. Kamu pasti belum mengerti,&#8221;  katanya lagi.</p>
<p>&#8220;Maksudnya Pak ?&#8221;<br />
&#8220;Kamu bisa naik sepeda ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa,&#8221; jawabku singkat.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kamu bisa menjaga keseimbangan mu saat mengendarai sepeda ?&#8221;</p>
<p>Maksudnya apa sih ini, menjaga keseimbangan yah begitu, &#8220;Susah dijelaskan Pak, tapi yang jelas kalau saya mengendarai sepeda, maka keseimbangan akan terjadi begitu saja. Rasanya susah untuk dijelaskan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bisa kalau kamu mau berpikir.&#8221;</p>
<p>Pemaksaan yang tidak sopan, kalau saya tidak bisa menjawab artinya saya gak mau berpikir. Ini penghinaan. Tunggu, saya akan pikir. </p>
<p>&#8220;Saya tahu, keseimbangan itu akan terjadi jika beban kita dialihkan ke sisi dimana kita akan terjatuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tepat!&#8221; Bapak itu tersenyum termanggut-manggut. Sambil membenarkan kopiahnya Bapak itu melanjutkan pembicaraanya, &#8220;Begitu lah hidup, jangan sekali-kali memalingkan diri dari permasalahan yang muncul di depan kita. Jika ada masalah muncul di depan kita, hadapi dan jangan melarikan diri. Ibarat orang naik sepeda, ketika akan jatuh ke sisi kiri maka setang sepeda di arahklan ke kiri.&#8221; </p>
<p>Bapak itu menghela napas, lalu melanjutkan, &#8220;Sekali saja kita melarikan diri dari permasalahan, maka ibarat sepeda tadi, mau jatuh ke sisi kiri tapi setang diarahkan ke sisi kanan, akibatnya kalau tidak oleng yah jatuh. Itu namanya keseimbangan.&#8221;</p>
<p>Ya ya ya, kayaknya saya paham arah pembicaraan Bapak ini.</p>
<p>&#8220;Tunggu dulu, ini belum selesai&#8221;, katanya sambil membenarkan letak kopiahnya kembali. &#8220;Keseimbangan juga terjadi karena pengendara  sepeda itu mengayuh sepedanya untuk maju. Kalau sepeda itu diam, keseimbangan juga sukar diperoleh.&#8221;</p>
<p>Betul juga, saya kok gak pikir sampai arah sana yah. &#8220;Kelihatannya saya sudah tahu maksud Bapak. Hidup itu harus seimbang seperti mengendarai sebuah sepeda, yaitu menjaga keseimbangan dengan cara tidak melarikan diri dari permasalahan. Selain itu, hidup ini juga harus tetap berjalan, tidak boleh diam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus, kamu pinter&#8221;, katanya entah memuji entah mencela, senyum Bapak ini tidak mudah ditebak artinya. Kopiahnya kembali digerakkan seolah tidak ada tempat yang pas dikepalanya, lalu dia berkata lagi, &#8220;Semakin cepat kamu mengayuh sepeda, maka sepeda akan semakin cepat melaju dan kamu akan semakin mudah menjaga keseimbangan. Hidup ini jangan lambat, bahkan jangan sampai diam di tempat, kalau kamu di posisi seperti ini, maka kamu akan sulit menjaga keseimbangan, akhirnya ibarat sepeda, kamu akan jatuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya saya tahu. Langkah pertama adalah menetapkan dulu kemana kamu akan mengendarai sepeda. Ini penting, karena sekali kamu mengayuh sepedamu, dan sepedamu sampai pada kecepatan tinggi, maka kamu akan sulit untuk belok. Kalau dipaksa, maka kamu akan jatuh. Begitulah hidup. Banyak sekali kejadian dimana seseorang telah mengendarai sepedanya secara cepat lalu dipaksa untuk belok, entah ke kiri entah ke kanan, akibatnya? Orang itu jatuh bahkan mati. Ada juga seseorang yang mengendarai sepedanya lambat bahkan sangat lambat, sehingga orang tersebut kecapekan untuk menjaga keseimbangan, akhirnya jatuh juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jadi yang benar? mengendarai sepeda cepat atau lambat Pak ?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang benar adalah kendarailah sepedamu itu sesuai dengan kemampuanmu. Kendarai secara cepat jika kamu sudah yakin ini arah tujuannya. Kendarai perlahan jika kamu masih ragu, tetapi ingat, semakin lama kamu meragu, maka akan semakin capek kamu menjaga keseimbangan.&#8221;</p>
<p>Ya ya ya, saya semakin paham. </p>
<p>&#8220;Terakhir&#8221;, katanya sambil lagi lagi membenarkan posisi kopiahnya. &#8220;Pakai semua indera yang kamu miliki agar sepedamu jalan tanpa menabrak atau ditabrak, perhatikan juga jalan yang kamu lewati jangan sampai sepedamu masuk lobang.&#8221;</p>
<p>Tangan Bapak ini sekarang memegang bahuku dan berkata, &#8220;Paling akhir adalah, selalu berdoa kepada Allah untuk memohon ridha-Nya, baik saat mulai menaiki sepeda, mengayuh bahkan ketika sepeda telah melaju cepat. Insya Allah, hidupmu akan senang, jauh dari susah.&#8221;</p>
<p>Ya ya ya, saya paham. Hidup itu seperti mengendarai sebuah sepeda.</p>
<p>Baca tulisan selanjutnya : <a href="http://riyogarta.com/?p=42">Sepeda #2</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://riyogarta.com/2005/12/04/sepeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

