Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Tigapuluh Empat!

Dikirim: April 18th, 2006 | Oleh: | Kategori: Buah Pena | 11 Komentar »

“Satu tahun telah kau lewati lagi,” sapanya. Lagi-lagi, dan aku masih saja seperti dulu. “Pernahkah kau berpikir untuk mulai mengubah semua yang telah kau lewati?” Tentu. Aku akan mengubahnya, mengubahnya untuk menjadi semakin baik.

“Ya, kau masih seperti yang dulu. Sosok yang keras kepala, selalu menggebu dan selalu ingin melakukan perubahan dimana pun.” Aku ingat sekarang, siapa dirimu. “Tentu, dan kau tidak akan pernah lupa meskipun sesekali kau terlalu sombong untuk mengingat siapa diriku.” Tidak. Aku bukan sombong, aku hanya ingin mencari, mencari sesuatu yang selalu kucari. “Dan kau telah mendapatkannya?” Mungkin. Mungkin aku telah mendapatkannya kembali, tetapi aku ragu, apakah ini yang selama ini kucari.

“Ragu. Yah, mungkin itulah yang selalu kau takuti. Bahkan ketika segala sesuatu telah jelas di depan mata, kau selalu ragu. Kau selalu berpangku diatas logika. Sampai kapan kau percaya dengan apa yang selalu kau banggakan?” Tidak, tidak seperti itu. Aku hanya yakin bahwa segala yang telah kulewati selalu mempunyai dampak positif.

“Kau yakin dengan apa yang telah kau pegang?” Hatiku bergetar. “Kau yakin telah menemukannya kembali?” Insya Allah. Apa yang selalu kucari mulai terlihat jelas. Aku tidak akan ragu lagi, aku harus semakin kuat dan aku akan selalu bersamamu.

Terimakasih ya Allah atas nikmat yang telah kau berikan selama ini. Dan maafkan ya Allah, atas segala dosa hambamu ini. Amin.


Proposal Buat Tuhan

Dikirim: December 15th, 2005 | Oleh: | Kategori: Buah Pena | 14 Komentar »

Bapak itu duduk di depanku setelah selesai menjalankan shalat maghrib. Kopiah yang sedari tadi menempel di kepalanya, dilepas dan ditaruhnya di atas meja.

“Pak,” sapa saya membuka pembicaraan. “Saya sering berdoa dan rasa-rasanya kok hanya sedikit sekali doa yang saya panjatkan itu dikabulkan.”

Bapak itu tersenyum, “Kamu pernah membuat sebuah proposal untuk suatu kegiatan?”

“Tentu,” jawab saya dengan bangga.

“Saya ingin tanya kepada kamu. Bagaimana sebuah proposal itu bisa diluluskan atau disetujui oleh penerima proposal ?”

“Mmm, yang jelas proposal tersebut haruslah berisi hal-hal yang sifatnya bisa atau mungkin dilakukan.”

“Proposal yang realisitis. Begitu maksud kamu?”

“Betul Pak.”

“Sebenarnya ada hal-hal lain yang harus kamu perhatikan ketika kamu membuat sebuah proposal. Misalnya, tata cara penulisan yang baik dan benar dengan bahasa yang mudah dimengerti. Proposal juga harus jelas tujuannya, kebutuhannya dan untung ruginya. Tanpa ini semua, jangan harap proposal kamu diterima.”

“Iya sih Pak. Hanya kembali kepada pertanyaan saya di awal. Kenapa tidak semua doa saya dikabulkan?”

“Karena kamu tidak membuat proposal dengan baik. Doa itu adalah proposal rencana kegiatan yang akan kita lakukan kepada Tuhan. Tuhan akan menerima proposal kita, jika proposal kita itu realistis, jelas tujuannya, jelas kebutuhannya, jelas untung ruginya dan disampaikan dengan aturan main yang sudah ditetapkan,” jawabnya lalu mengambi kopi panas yang sudah disiapkan sejak tadi.

“Maksud Bapak, doa itu layaknya sebuah proposal ? Harus realisitis, jelas tujuannya, jelas kebutuhannya, jelas untung ruginya dan disampaikan dengan cara yang baik,” tanya saya meyakinkan apa yang saya tangkap dari pembicaraan yang disampaikan Bapak itu.

“Dengan cara yang sesuai dengan aturan mainnya. Itu lebih tepat.” Ditaruhnya cangkir kopi panas yang baru saja dicicipinya itu di atas meja. “Kopinya enak,” katanya dengan senyum yang khas. Senyum dari seorang yang sudah banyak makan asam garam di dunia ini, senyum yang menampakkan ketenangan jiwa yang luar biasa.

“Nak, ikuti cara-cara orang sukses membuat proposal sehingga proposalnya diterima. Ikuti bagaimana Rasulmu membuat proposal dan menyampaikannya pada sang Khalik. Insya Allah Nak, proposalmu, cepat atau lambat akan diterima-Nya. Yang jelas, proposal yang kamu buat haruslah realistis, jelas dan mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan-Nya.”

Ya ya ya, proposal buat Tuhan. Kenapa tidak pernah terpikirkan oleh saya.


Bola Hitam & Bola Putih

Dikirim: December 9th, 2005 | Oleh: | Kategori: Buah Pena | 13 Komentar »

Banyak sekali hal yang tidak bisa kita duga, asal, mengapa, bagaimana dan apa tujuannya. Terkadang teka-teki hidup bisa terjawab seketika, tetapi tidak sedikit misteri itu tetap menyelimuti hingga batas yang tidak dapat dipastikan.

~Riyogarta, 2005

Ari, begitulah nama panggilannya. Dia adalah anak satu-satunya dari sebuah keluarga yang bahagia. Bapaknya adalah seorang yang terpelajar dan memiliki kekayaan dari hasil warisan orang tuanya. Ibunya adalah seorang wanita karier yang sangat sukses. Kedua orang tua Ari sangat sayang padanya.

Suatu hari, Ari terlihat termenung memperhatikan sepatu yang digunakan teman TK-nya. Ibunya yang sempat melihat hal ini menjadi terenyuh dan ingin membelikan Ari sepasang sepatu untuknya. “Ari mau sepatu seperti yang dipakai Andre?” tanya Ibunya.

“Nggak Bu,” katanya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

“Lho, nggak apa-apa Ari, Ibu bisa kok membelikan sepatu seperti itu. Bahkan kalau Ari mau yang lebih bagus dari itu, Ibu juga bisa belikan.”

Ari menggelengkan kepalanya. “Nggak ah Bu. Kalau Ibu memang punya uang, Ari minta dibelikan bola berwarna hitam dan putih saja.”

Baca Selengkapnya »


Sepeda #2

Dikirim: December 6th, 2005 | Oleh: | Kategori: Buah Pena | 9 Komentar »

Tulisan sebelumnya : Sepeda

“Ada satu lagi Pak. kalau boleh saya akan menambahkan perumpamaan Sepeda dengan sebuah kondisi yang lain,” kataku tiba-tiba.

Bapak itu melepaskan tanganya dari pundakku. Alisnya dikerutkan seperti sedang berpikir dengan mata memandang tajam, “Silakan,” katanya.

“Sedari tadi Bapak hanya mengatakan ibarat seorang naik sepeda, bagaimana kalau tidak seorang ? Misalnya, seseorang naik sepeda sambil memboceng orang lain. Ini akan berbeda dengan kondisi yang Bapak ceritakan di awal.”

“Betul sekali. Jika suatu hari kamu menaiki sepedamu dan ada orang lain hendak membonceng di sepedamu itu, yang harus kamu lakukan adalah kamu harus memiliki keyakinan. Keyakinan yang lebih.”

“Keyakinan yang lebih ? Maksudnya Pak?”

“Iya, pertama, kamu harus yakin bahwa kamu akan kuat mengayuh sepedamu dengan beban yang lebih berat karena ada orang yang memboceng di sepedamu.”

Bapak itu menghela napas dalam, lalu berkata lagi, “Kedua, keyakinan bahwa kamu akan sanggup menjaga keseimbangan yang lebih baik, karena bukan tidak mungkin orang yang kamu boncengin malah merusak keseimbangan sepedamu.”

“Tetapi saya bisa bilang pada orang itu untuk turut menjaga keseimbangan,” kataku memotong pembicaraan.

“Itu betul. Tetapi tidak semua orang kamu kasih tahu akan langsung mau menurut bahkan ketika terbukti bahwa sepedamu jatuh gara-gara dia. Kalau sudah begini maka kamu harus tetap menjaga sepedamu agar tidak jatuh, kayuh terus dan jaga terus keseimbangan.”

“Wah … berat juga.”

“Tidak ada yang berat kalau kamu menjalaninya dengan ikhlas. Pemboceng itu bisa jadi adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu, bahkan … “, katanya tenang sambil melepaskan kopiahnya dari kepalanya yang sudah putih beruban. “Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa kamu!”

“Dan jangan lupa,” lanjutnya lagi. “Suatu hari ketika kamu sudah tidak kuat lagi mengayuh sepedamu, maka kamu akan memboceng sepeda yang dikendarai orang lain. Bisa jadi dikendarai oleh adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu.”

“Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa saya,” kataku mendahului.

“Ya, benar,” katanya sambil melipat kopiahnya dan ditaruhnya diatas meja. Rambutnya yang sudah memutih di sisirnya dengan jari tangan yang mulai mengeriput dimakan waktu.

“Nak, hidup itu bagaikan kita mengendarai sepeda. Kamu masih muda, kendarai sepedamu baik-baik, ajari semua orang untuk bisa mengendarai sepeda itu dengan benar.”

Ya, Bapak ini benar. Hidup ini benar-benar seperti sebuah perjalanan dengan menggunakan sepeda. Kadang dipaksa harus belok meskipun keinginannya lurus. Kadang dipaksa lurus meskipun keinginannya belok. Ya, inilah hidup. Ikutin saja agar seimbang, kayuh terus agar keseimbangan lebih mudah dijaga, insya Allah apa yang kita inginkan diridhai olehNya.


Sepeda

Dikirim: December 4th, 2005 | Oleh: | Kategori: Buah Pena | 10 Komentar »

“Hidup itu seperti sepeda,” katanya tenang tanpa beban.
“Iya, seperti sepeda. Kamu pasti belum mengerti,” katanya lagi.

“Maksudnya Pak ?”
“Kamu bisa naik sepeda ?”

“Bisa,” jawabku singkat.

“Bagaimana kamu bisa menjaga keseimbangan mu saat mengendarai sepeda ?”

Maksudnya apa sih ini, menjaga keseimbangan yah begitu, “Susah dijelaskan Pak, tapi yang jelas kalau saya mengendarai sepeda, maka keseimbangan akan terjadi begitu saja. Rasanya susah untuk dijelaskan.”

“Bisa kalau kamu mau berpikir.”

Pemaksaan yang tidak sopan, kalau saya tidak bisa menjawab artinya saya gak mau berpikir. Ini penghinaan. Tunggu, saya akan pikir.

“Saya tahu, keseimbangan itu akan terjadi jika beban kita dialihkan ke sisi dimana kita akan terjatuh.”

“Tepat!” Bapak itu tersenyum termanggut-manggut. Sambil membenarkan kopiahnya Bapak itu melanjutkan pembicaraanya, “Begitu lah hidup, jangan sekali-kali memalingkan diri dari permasalahan yang muncul di depan kita. Jika ada masalah muncul di depan kita, hadapi dan jangan melarikan diri. Ibarat orang naik sepeda, ketika akan jatuh ke sisi kiri maka setang sepeda di arahklan ke kiri.”

Bapak itu menghela napas, lalu melanjutkan, “Sekali saja kita melarikan diri dari permasalahan, maka ibarat sepeda tadi, mau jatuh ke sisi kiri tapi setang diarahkan ke sisi kanan, akibatnya kalau tidak oleng yah jatuh. Itu namanya keseimbangan.”

Ya ya ya, kayaknya saya paham arah pembicaraan Bapak ini.

“Tunggu dulu, ini belum selesai”, katanya sambil membenarkan letak kopiahnya kembali. “Keseimbangan juga terjadi karena pengendara sepeda itu mengayuh sepedanya untuk maju. Kalau sepeda itu diam, keseimbangan juga sukar diperoleh.”

Betul juga, saya kok gak pikir sampai arah sana yah. “Kelihatannya saya sudah tahu maksud Bapak. Hidup itu harus seimbang seperti mengendarai sebuah sepeda, yaitu menjaga keseimbangan dengan cara tidak melarikan diri dari permasalahan. Selain itu, hidup ini juga harus tetap berjalan, tidak boleh diam.”

“Bagus, kamu pinter”, katanya entah memuji entah mencela, senyum Bapak ini tidak mudah ditebak artinya. Kopiahnya kembali digerakkan seolah tidak ada tempat yang pas dikepalanya, lalu dia berkata lagi, “Semakin cepat kamu mengayuh sepeda, maka sepeda akan semakin cepat melaju dan kamu akan semakin mudah menjaga keseimbangan. Hidup ini jangan lambat, bahkan jangan sampai diam di tempat, kalau kamu di posisi seperti ini, maka kamu akan sulit menjaga keseimbangan, akhirnya ibarat sepeda, kamu akan jatuh.”

“Tapi …”

“Ya saya tahu. Langkah pertama adalah menetapkan dulu kemana kamu akan mengendarai sepeda. Ini penting, karena sekali kamu mengayuh sepedamu, dan sepedamu sampai pada kecepatan tinggi, maka kamu akan sulit untuk belok. Kalau dipaksa, maka kamu akan jatuh. Begitulah hidup. Banyak sekali kejadian dimana seseorang telah mengendarai sepedanya secara cepat lalu dipaksa untuk belok, entah ke kiri entah ke kanan, akibatnya? Orang itu jatuh bahkan mati. Ada juga seseorang yang mengendarai sepedanya lambat bahkan sangat lambat, sehingga orang tersebut kecapekan untuk menjaga keseimbangan, akhirnya jatuh juga.”

“Jadi yang benar? mengendarai sepeda cepat atau lambat Pak ?”

“Yang benar adalah kendarailah sepedamu itu sesuai dengan kemampuanmu. Kendarai secara cepat jika kamu sudah yakin ini arah tujuannya. Kendarai perlahan jika kamu masih ragu, tetapi ingat, semakin lama kamu meragu, maka akan semakin capek kamu menjaga keseimbangan.”

Ya ya ya, saya semakin paham.

“Terakhir”, katanya sambil lagi lagi membenarkan posisi kopiahnya. “Pakai semua indera yang kamu miliki agar sepedamu jalan tanpa menabrak atau ditabrak, perhatikan juga jalan yang kamu lewati jangan sampai sepedamu masuk lobang.”

Tangan Bapak ini sekarang memegang bahuku dan berkata, “Paling akhir adalah, selalu berdoa kepada Allah untuk memohon ridha-Nya, baik saat mulai menaiki sepeda, mengayuh bahkan ketika sepeda telah melaju cepat. Insya Allah, hidupmu akan senang, jauh dari susah.”

Ya ya ya, saya paham. Hidup itu seperti mengendarai sebuah sepeda.

Baca tulisan selanjutnya : Sepeda #2