“Hidup itu seperti sepeda,” katanya tenang tanpa beban.
“Iya, seperti sepeda. Kamu pasti belum mengerti,” katanya lagi.
“Maksudnya Pak ?”
“Kamu bisa naik sepeda ?”
“Bisa,” jawabku singkat.
“Bagaimana kamu bisa menjaga keseimbangan mu saat mengendarai sepeda ?”
Maksudnya apa sih ini, menjaga keseimbangan yah begitu, “Susah dijelaskan Pak, tapi yang jelas kalau saya mengendarai sepeda, maka keseimbangan akan terjadi begitu saja. Rasanya susah untuk dijelaskan.”
“Bisa kalau kamu mau berpikir.”
Pemaksaan yang tidak sopan, kalau saya tidak bisa menjawab artinya saya gak mau berpikir. Ini penghinaan. Tunggu, saya akan pikir.
“Saya tahu, keseimbangan itu akan terjadi jika beban kita dialihkan ke sisi dimana kita akan terjatuh.”
“Tepat!” Bapak itu tersenyum termanggut-manggut. Sambil membenarkan kopiahnya Bapak itu melanjutkan pembicaraanya, “Begitu lah hidup, jangan sekali-kali memalingkan diri dari permasalahan yang muncul di depan kita. Jika ada masalah muncul di depan kita, hadapi dan jangan melarikan diri. Ibarat orang naik sepeda, ketika akan jatuh ke sisi kiri maka setang sepeda di arahklan ke kiri.”
Bapak itu menghela napas, lalu melanjutkan, “Sekali saja kita melarikan diri dari permasalahan, maka ibarat sepeda tadi, mau jatuh ke sisi kiri tapi setang diarahkan ke sisi kanan, akibatnya kalau tidak oleng yah jatuh. Itu namanya keseimbangan.”
Ya ya ya, kayaknya saya paham arah pembicaraan Bapak ini.
“Tunggu dulu, ini belum selesai”, katanya sambil membenarkan letak kopiahnya kembali. “Keseimbangan juga terjadi karena pengendara sepeda itu mengayuh sepedanya untuk maju. Kalau sepeda itu diam, keseimbangan juga sukar diperoleh.”
Betul juga, saya kok gak pikir sampai arah sana yah. “Kelihatannya saya sudah tahu maksud Bapak. Hidup itu harus seimbang seperti mengendarai sebuah sepeda, yaitu menjaga keseimbangan dengan cara tidak melarikan diri dari permasalahan. Selain itu, hidup ini juga harus tetap berjalan, tidak boleh diam.”
“Bagus, kamu pinter”, katanya entah memuji entah mencela, senyum Bapak ini tidak mudah ditebak artinya. Kopiahnya kembali digerakkan seolah tidak ada tempat yang pas dikepalanya, lalu dia berkata lagi, “Semakin cepat kamu mengayuh sepeda, maka sepeda akan semakin cepat melaju dan kamu akan semakin mudah menjaga keseimbangan. Hidup ini jangan lambat, bahkan jangan sampai diam di tempat, kalau kamu di posisi seperti ini, maka kamu akan sulit menjaga keseimbangan, akhirnya ibarat sepeda, kamu akan jatuh.”
“Tapi …”
“Ya saya tahu. Langkah pertama adalah menetapkan dulu kemana kamu akan mengendarai sepeda. Ini penting, karena sekali kamu mengayuh sepedamu, dan sepedamu sampai pada kecepatan tinggi, maka kamu akan sulit untuk belok. Kalau dipaksa, maka kamu akan jatuh. Begitulah hidup. Banyak sekali kejadian dimana seseorang telah mengendarai sepedanya secara cepat lalu dipaksa untuk belok, entah ke kiri entah ke kanan, akibatnya? Orang itu jatuh bahkan mati. Ada juga seseorang yang mengendarai sepedanya lambat bahkan sangat lambat, sehingga orang tersebut kecapekan untuk menjaga keseimbangan, akhirnya jatuh juga.”
“Jadi yang benar? mengendarai sepeda cepat atau lambat Pak ?”
“Yang benar adalah kendarailah sepedamu itu sesuai dengan kemampuanmu. Kendarai secara cepat jika kamu sudah yakin ini arah tujuannya. Kendarai perlahan jika kamu masih ragu, tetapi ingat, semakin lama kamu meragu, maka akan semakin capek kamu menjaga keseimbangan.”
Ya ya ya, saya semakin paham.
“Terakhir”, katanya sambil lagi lagi membenarkan posisi kopiahnya. “Pakai semua indera yang kamu miliki agar sepedamu jalan tanpa menabrak atau ditabrak, perhatikan juga jalan yang kamu lewati jangan sampai sepedamu masuk lobang.”
Tangan Bapak ini sekarang memegang bahuku dan berkata, “Paling akhir adalah, selalu berdoa kepada Allah untuk memohon ridha-Nya, baik saat mulai menaiki sepeda, mengayuh bahkan ketika sepeda telah melaju cepat. Insya Allah, hidupmu akan senang, jauh dari susah.”
Ya ya ya, saya paham. Hidup itu seperti mengendarai sebuah sepeda.
Baca tulisan selanjutnya : Sepeda #2