Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Minuman Botol

Dikirim: January 2nd, 2013 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 32 Komentar »

Beberapa hari yang lalu, saat haus di siang hari, saya menenggak hampir habis sebotol mizone dingin di lemari es. Saya benar-benar lupa kalau botol minuman itu milik Agha. “Agha nggak mo omong lwagi ama Yayyooo,” katanya dengan nada marah.

Sebelumnya dia marah sama Bunli yang menurut sangkaannya sudah menghabiskan minuman itu. Tapi setelah saya jelaskan bahwa yang meminumnya itu bukan Bunli, Agha memeluk Bunli dan mengalihkan marahnya ke saya.

“Maaf Gha, nanti Yahyo belikan lagi ya. Yahyo pikir itu punya Yahyo,” disambut gerutu Agha yang membuat saya geli. Akhir-akhir ini Agha memang sedang mengenalkan kemampuannya untuk marah. Beberapa kami tegur jika marahnya memang salah tempat, beberapa kami tanggapi karena memang layak marah.

Semalam saat kami keluar rumah, saya tawarkan kepadanya untuk mampir ke salah satu mini market membeli mizone pengganti. Namun Agha menolak, “Bunni aja yang bewyiin mijon kawrena Yayyoo uwdah abisin mijon Agha.”

Baca Selengkapnya »


Adang dan Nasi Goreng

Dikirim: December 31st, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 12 Komentar »

Agha sangat sering mengajak Pamannya menginap di rumah. Katanya agar dia bisa menemaninya bermain. Maka, salah satu Pamannya memutuskan untuk ikut saat Agha kami jemput dari rumah Kakek Neneknya di malam hari.

Saat perjalanan pulang, kami yang memang belum makan malam memutuskan untuk mampir di penjual nasi goreng langganan. Langganan nasi goreng yang juga disukai Agha.

“Dang,” panggil saya ke Adang. Adang adalah nama panggilan Agha kesalah satu Pamannnya. Sebuah panggilan khas di keluarga Minang yang berasal dari kata Mamak Gadang yang berarti Paman Besar. Jika Pamannya adalah saudara Ibu, disebutlah Mamak seperti hubungan Bunli, Bundanya Agha dengan Pamannya ini. Tapi jika Pamannya adalah saudara Ayahnya, dipanggilnya Bapak bukan Mamak. Sementara kata Gadang karena Pamannya masih punya adik namun bukan yang tertua.

Karena panggilannya bisa Bapak Gadang bisa pula Mamak Gadang, maka disederhanakan panggilannya menjadi Adang. Semacam standarisasi agar keponakannya tidak bingung memanggil Pamannya.  Baca Selengkapnya »


Telur Orak Arik II

Dikirim: December 20th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | Belum Ada Komentar »

Baru saja terjadi, Agha ingin makan siang dengan telur orak-arik kesukaannya. “Yayyoo, Agha mau makan pake tewluwr keci-keci seperti kemayren,” pintanya. Lalu dia mengambil telur ayam kampung dari lemari es. “Tewluwrnya tinggal atu Yayyoo,” katanya memberi tahu saya. “Nanti Yayyo makan pake apa?” tanyanya membuat hati ini terharu. Ternyata dia memikirkan juga dengan apa nanti Ayahnya makan karenamenyadari telur ayamnya hanya tinggal satu butir.

“Nggak apa-apa Nak. Itu buat Agha saja. Yahyo nanti bisa makan pakai yang lain,” jawab saya meyakinkan agar dia tidak perlu memikirkan Ayahnya.

“Nanti mawlam, kita pewrgi ke jayin aja Yayyoo. Kita bewli tewluwr yang banyak. Jadi tewrluwrnya nggak abis-abis,” usulnya sambil memegang telur di tangan kirinya. “Kita pewrgi bewrsama-sama Bunni.”

Baca Selengkapnya »


Telur Orak Arik

Dikirim: December 20th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 3 Komentar »

Agha sangat suka sekali telur. Dulu pernah saya masakan dia telur dadar gulung yang dibuat dari 6 telur ayam. Dia sebut telur itu sebagai telur ikan paus karena bentuknya yang besar dan bulat memanjang. Telur ini pun menjadi telur favorit mengalahkan telur mata sapi yang disebutnya sebagai teluwr mata moo. Moo adalah bunyi sapi yang dijadikan nama pengganti sapi seperti halnya menyebut guguk menggantikan sebutan anjing.

Kemarin siang, saya tawarkan masakan telur lain yang rasanya belum pernah saya buatkan. Padahal, biasanya telur ini lebih dulu dikenalkan kepada anak kecil karena membuatnya jauh lebih mudah daripada membuat telur dadar gulung. Telur itu sering disebut telur orak-arik. Setelah mengangguk tanda setuju, saya masak telur orak-arik itu di penggorengan dengan sedikit mentega.

“Baunya enaaak,” kata Agha mencium bau telur orak-arik yang sudah disajikan di piring mickey kesayangannya. Lalu tangannya yang mungil mulai menyendokkan nasi beserta telur ke mulutnya. Ya, Agha sudah bisa makan sendiri sejak umur 3 tahun kurang. Tanpa nasi yang tumpah dan mulut yang tidak belepotan. Suatu hal yang kami syukuri karena dia begitu cepat belajar untuk bisa makan sendiri. Tapi bukan berarti tidak pernah disuapin, adakalanya dia minta disuapin dan kami pun rindu melakukannya.

“Yayyoo hebat! Agha lebih suka tewluwr keci-keci ini. Lewbih enak dawri tewluwr mata moo. Lebih enak dawri tewluwr ikan paus,” celotehnya sambil menyuapkan nasi ke mulut. “Tewluwr buatan Yayyoo lebih enak dawri buatan Bunni sama Nenek,” katanya lagi. Wow, senangnya hati saya ini.

Tapi begitulah Agha. Dia suka membuat orang senang ketika dia merasa puas dengan apa yang didapatkannya. Tak perlu memasak susah payah, air tawar yang yang diberikan oleh Neneknya saat dia haus pun dia katakan “Enaaaakkk”. Bahkan, dia tidak merasa nyaman untuk mengatakan tidak enak atas kue pemberian Pakdhenya.

“Kuenya enak nggak Agha?”
“Enaaaakkkk,” katanya senyum.
“Ya sudah, ayo ambil lagi.”
“Buwat nanti aja. Disimpan duwlu.”

Baca Selengkapnya »


Bunli Yang Hebat

Dikirim: December 18th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | Belum Ada Komentar »

Sudah cukup lama saya tidak mengajak Agha makan siang di luar. Kemarin, saat Bunli (nama panggilang Bundanya Agha) meeting di kampus, saya pun berinisiatif mengajaknya makan siang sambil menunggu Bunli.

“Yayyoo, kawlo nanti sampe, kita pesen minum aja. Pijjanya pesen nanti aja kawlo Bunli udah datang. Kawrena Yahyo nggak hebat kawlo pesen pijja,” katanya dalam perjalanan.

Sadar dengan dosa yang pernah saya lakukan saat memesan pizza yang tidak dia sukai, saya pun bilang, “Waaah, Yahyo nanti akan pesan pizza yang enak deh buat Agha. Kemarin itu Yahyo coba pizza yang lain, karena bosan kan pizzanya itu-itu saja?” Agha diam dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah makan Pizza yang tak jauh dari kampus dimana Bunli meeting.

Sesampainya di tujuan, Agha langsung berjalan masuk dan memilih bangku yang dia suka. Lalu seorang pramusaji menghampiri kami membawakan menu. “Mbak, tolong kasih dia satu menu juga. Dia juga ingin melihat menu,” kata saya sambil menunjuk Agha yang seolah hendak protes karena karena tak diberi menu. Agha pun sumringah saat pramusaji memberikan menu kepadanya.

Baca Selengkapnya »


Doa dan Nasi Tim

Dikirim: December 16th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 4 Komentar »

Agha sangat suka nasi tim. Dan salah satu nasi tim favoritnya adalah nasi tim di Bakmi Parahyangan yang ada di rest area tol Cipularang km 97 menuju Jakarta. Sayang beberapa kali kesana sepulang dari Bandung, nasi tim sudah habis. Hari ini, setelah kemarin menghadiri undangan nikah keponakan, kami bergegas pulang ke Jakarta. Lalu seperti biasa, kami berniat mampir di rest area itu dan berharap nasi tim masih tersedia.

“Agha, Agha berdoa mudah-mudahan nasi timnya masih ada,” saran saya yang disambut dengan anggukan. Lalu Agha pun berdoa yang isinya adalah harapannya agar bisa makan siang dengan nasi tim kesukaannya.

“Ya Allah, semoga kayi ini nashi tim yang Agha suka masih ada. Jadi Agha bisa makan dengan nashi tim. Amin.” doanya.

Baca Selengkapnya »


Susu UHT

Dikirim: December 12th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 1 Komentar »

Anak kami adalah pengkonsumsi Susu UHT keluaran Ultra Jaya untuk kebutuhan susu sejak umurnya menginjak satu tahun. Sejak itu pula kami selalu memburu susu UHT 200ml untuk kebutuhan tersebut. Ya, kami adalah aliran orang tua yang tidak pernah memberikan Susu Formula untuk anak :)

Namun agak kaget saat menemukan gumpalan susu seperti agar-agar pada susu UHT yang belum tiba masa expirednya. Diawali dari Agha, anak kami yang berusia 3.5 tahun, yang mengatakan susu UHT-nya tidak enak.

Atas dasar itu, kami telpon layanan konsumen Ultra Jaya tadi pagi dan di luar dugaan komplen kami ditanggapi dengan baik. Mereka langsung mengutus petugas ke rumah. Mereka cek semua susu UHT simpanan kami, memfotonya juga mencoba rasanya. Kesimpulan memang susunya rusak walau menurut mereka tidak berbahaya untuk dikonsumsi. Lalu mereka memutuskan untuk mengganti semua susu UHT yang kami miliki yang jumlahnya lebih dari 6 karton (1 karton berisi 24 kotak susu).

Ah senangnya melihat kesigapan layanan konsumen seperti ini. Salut buat Ultra Jaya atas pelayanan yang mereka berikan