Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Gaya Rambut

Dikirim: December 26th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Lain-lain | 4 Komentar »

207838_4699884808398_309027028_n

 

“Sudah Bun?” tanya Agha kepada Bunli berharap kegiatan pemotongan rambut segera selesai. Padahal pemotongan rambut baru saja dimulai. Tapi seperti biasa, Agha paling tidak betah saat rambutnya dipotong.

Bunli memang pandai memotong rambut. Bahkan saat kami dulu berpacaran, saya adalah pelanggan setianya. Potongan rambutnya bagus walau pernah salah dan diselesaikan dengan pergi ke tukang potong rambut untuk diubah menjadi potongan model TNI. Begitu juga dengan adik-adiknya, mereka adalah pelanggan setia Bunli. Kini Agha adalah pelanggan spesialnya yang cerewet. Hampir setiap menit menanyakan apakah potong rambutnya sudah selesai atau belum.

“Belum Agha,” jawab Bunli sabar. “Ini baru juga dimulai,” tambahnya. Tangan Bunli menyisir lalu mengunting rambut Agha yang memang sudah cukup panjang. Helai-helai rambut terlihat mulai berjatuhan di kain yang menyelimuti badan Agha, lalu jatuh ke lantai.

“Udah Bun?,” tanyanya lagi disambut jawaban yang sama oleh Bunli, “Belum”.

Eyang Agha di Bandung, juga ahli dalam memotong rambut. Saya dan semua kakak saya yang kini menjadi Pakde dan Budenya Agha adalah pelanggan setia Eyang dalam hal memotong rambut. Dan kini, tradisi itu kembali terjadi. Tak perlu pergi ke salon, karena ada tukang cukur yang pandai di rumah.

“Udah Bun?”
“Belum.”

Kepala Agha tampak tertunduk karena Bunli sedang memotong rambut bagian belakang. Sesekali kakinya bergoyang, disambung kepala yang juga ikut bergoyang, Entah karena mendengar musik dari televisi atau hal lainnya. “Agha diam dong. Nanti jadi nggak selesai-selesai ini memotong rambutnya,” tegur Bunli. Agha terdiam beberapa saat, namun goyangnya kembali terjadi, dan Bunli dengan sabar mengulang tegurannya.

“Udah Bun?”
“Belum”

Terlihat tangan Agha mengusir potongan rambut yang hinggap di tangannya. Lalu padangannya tertuju pada potongan-potongan rambut yang berjatuhan di lantai. Sungguh pemandangan yang mengingatkan masa kecil, saat Ibu memotong rambut saya. Like father like son, begitulah ungkapan yang harus saya percayai saat ini.

“Udah Bun?”
“Belum!”

Entah berapa lama acara memotong rambut ini dilakukan. Hingga akhirnya terdengar suara bernada kecewa disambung dengan suara tangis karena kesal dari Agha. “Bunli sayah motong wrambut Agha,” katanya sesenggukkan.

“Lho kenapa?”
“Wrambut Agha jadi kaya wrambut bayyi,” jawab Agha menangis. Terdengar suara Bunli ngakak karena geli. Rupanya sang pelanggan komplen karena menurutnya, potongan Bunli kali ini membuat wajahnya seperti bayi.

“Ah nggak kok, cukuran Bunli bagus,” timpal saya yang masih terheran, apa yang sebenarnya membuat Agha berkesimpulan potongan rambutnya seperti bayi. Namun Agha tetap bersikeras bahwa rambutnya kini seperti rambut bayi.

Bunli yang masih tertawa melihat betapa lucunya Agha menangis segera menyisir rambutnya dengan gaya yang sedikit lain. “Begini?” tanya Bunli kepada Agha. Terlihat Agha memandang cermin di hadapannya, sekejap tangisannya hilang walau masih sesenggukkan.

“Iya, gini Bun,” jawabnya pelan lalu kembali memandang wajahnya di cermin. “Iya, gini Bun. Wrambut Agha bagus kaya gini. Kaya rambut kakak,” komentarnya disambut gelak tawa Bunli.

Rupanya Agha tidak suka dengan gaya belah pinggir rambutnya yang jatuh. Dia ingin rambutnya sedikit berdiri walau tipe rambutnya bukan tipe rambut yang kaku.

“Bun, kalow wrambut Agha tiduwr jadi sepewrti bayi. Kalow begini, Agha jadi sepewrti kakak,” katanya bangga sambil mengusek-usek tanggannya di kepala agar rambutnya tetap berdiri.

Saya yang sejak tadi geli melihat tingkahnya segera membujuknya untuk mau difoto. Foto saat model rambutnya seperti bayi sesuai penuturannya, dan tentu saja satu buah foto lagi saat model rambutnya seperti rambut kakak.


4 komentar untuk “Gaya Rambut”

  1. 1
    Dropship Kosmetik Murah Buatan Indonesia
    berkomentar pada jam 4:32 pm
    tanggal 26 September 2013

    satu lagi cerpen yang bagus meskipun ejaannya ada yang salah…

  2. 2
    Jasa Pindah
    berkomentar pada jam 2:14 pm
    tanggal 21 May 2014

    @Dropship Kosmetik itu bukannya typo deh mas tapi emang niru kata2 anaknya yang masih rada cadel

    Cakep anaknya mas :)

  3. 3
    wayne
    berkomentar pada jam 3:54 pm
    tanggal 27 October 2014

    .

    hello.

  4. 4
    edwin
    berkomentar pada jam 6:06 pm
    tanggal 20 November 2014

    .

    thanks!!


Isi Komentar