Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Telur Orak Arik

Dikirim: December 20th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 3 Komentar »

Agha sangat suka sekali telur. Dulu pernah saya masakan dia telur dadar gulung yang dibuat dari 6 telur ayam. Dia sebut telur itu sebagai telur ikan paus karena bentuknya yang besar dan bulat memanjang. Telur ini pun menjadi telur favorit mengalahkan telur mata sapi yang disebutnya sebagai teluwr mata moo. Moo adalah bunyi sapi yang dijadikan nama pengganti sapi seperti halnya menyebut guguk menggantikan sebutan anjing.

Kemarin siang, saya tawarkan masakan telur lain yang rasanya belum pernah saya buatkan. Padahal, biasanya telur ini lebih dulu dikenalkan kepada anak kecil karena membuatnya jauh lebih mudah daripada membuat telur dadar gulung. Telur itu sering disebut telur orak-arik. Setelah mengangguk tanda setuju, saya masak telur orak-arik itu di penggorengan dengan sedikit mentega.

“Baunya enaaak,” kata Agha mencium bau telur orak-arik yang sudah disajikan di piring mickey kesayangannya. Lalu tangannya yang mungil mulai menyendokkan nasi beserta telur ke mulutnya. Ya, Agha sudah bisa makan sendiri sejak umur 3 tahun kurang. Tanpa nasi yang tumpah dan mulut yang tidak belepotan. Suatu hal yang kami syukuri karena dia begitu cepat belajar untuk bisa makan sendiri. Tapi bukan berarti tidak pernah disuapin, adakalanya dia minta disuapin dan kami pun rindu melakukannya.

“Yayyoo hebat! Agha lebih suka tewluwr keci-keci ini. Lewbih enak dawri tewluwr mata moo. Lebih enak dawri tewluwr ikan paus,” celotehnya sambil menyuapkan nasi ke mulut. “Tewluwr buatan Yayyoo lebih enak dawri buatan Bunni sama Nenek,” katanya lagi. Wow, senangnya hati saya ini.

Tapi begitulah Agha. Dia suka membuat orang senang ketika dia merasa puas dengan apa yang didapatkannya. Tak perlu memasak susah payah, air tawar yang yang diberikan oleh Neneknya saat dia haus pun dia katakan “Enaaaakkk”. Bahkan, dia tidak merasa nyaman untuk mengatakan tidak enak atas kue pemberian Pakdhenya.

“Kuenya enak nggak Agha?”
“Enaaaakkkk,” katanya senyum.
“Ya sudah, ayo ambil lagi.”
“Buwat nanti aja. Disimpan duwlu.”

Kalau sudah begini, sebenarnya dia tidak terlalu suka namun sungkan mengatakan tidak enak. Ah Agha, kecil-kecil kok ya sudah pintar berbasa-basi.


3 komentar untuk “Telur Orak Arik”

  1. 1
    Hector
    berkomentar pada jam 2:40 pm
    tanggal 26 November 2014

    .

    ñïñ çà èíôó.

  2. 2
    Milton
    berkomentar pada jam 9:44 pm
    tanggal 27 November 2014

    .

    hello.

  3. 3
    Harry
    berkomentar pada jam 5:33 pm
    tanggal 28 November 2014

    .

    thanks for information.


Isi Komentar