Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Telur Orak Arik II

Dikirim: December 20th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | Belum Ada Komentar »

Baru saja terjadi, Agha ingin makan siang dengan telur orak-arik kesukaannya. “Yayyoo, Agha mau makan pake tewluwr keci-keci seperti kemayren,” pintanya. Lalu dia mengambil telur ayam kampung dari lemari es. “Tewluwrnya tinggal atu Yayyoo,” katanya memberi tahu saya. “Nanti Yayyo makan pake apa?” tanyanya membuat hati ini terharu. Ternyata dia memikirkan juga dengan apa nanti Ayahnya makan karenamenyadari telur ayamnya hanya tinggal satu butir.

“Nggak apa-apa Nak. Itu buat Agha saja. Yahyo nanti bisa makan pakai yang lain,” jawab saya meyakinkan agar dia tidak perlu memikirkan Ayahnya.

“Nanti mawlam, kita pewrgi ke jayin aja Yayyoo. Kita bewli tewluwr yang banyak. Jadi tewrluwrnya nggak abis-abis,” usulnya sambil memegang telur di tangan kirinya. “Kita pewrgi bewrsama-sama Bunni.”

“Ya nggak perlu beli banyak-banyak Gha. Beli secukupnya saja. Kalau nanti telurnya habis, kita beli lagi. Nggak bagus beli sesuatu terlalu banyak Gha,” nasehat saya kepadanya.

“Tapi susu Agha? Yayyoo bewlinya banyak kawli.” Rasanya seperti tertimpa panci mendengar ocehannya kali ini. Saya sadar apa yang baru saja saya nasehatkan ternyata bertentangan dengan apa yang pernah saya lakukan. Betul, dulu kami memang membeli susu UHT dalam jumlah yang cukup banyak. Hal ini kami lakukan karena susu UHT 200ml sangat jarang kami temui di supermarket. Biasanya kami memborong cukup banyak untuk persediaan 1 hingga 3 bulan saat mendapatinya.

“Susu yang Agha minum itu seringkali tidak ada di toko Gha. Makanya Yahyo atau Bunli sering membeli dengan jumlah yang banyak supaya Agha tetap bisa minum susu. Lagi pula, susu UHT itu tahan lama, tidak seperti telur yang kalau disimpan lama menjadi tidak bagus untuk dimakan.”

Lalu seperti biasa, Agha bertanya kenapa susu itu seringkali tidak ada, kenapa susu bisa tahan lama sementara telur tidak hingga kenapa telur yang sudah lama nggak bagus dimakan dan seterusnya. Hingga tiba-tiba pertanyaannya terhenti dan dia menangis cukup keras. Saya yang sedang mencuci piring untuk dia makan sontak kaget medengar tangisan yang tiba-tiba itu.

“Tewluwr Agha jatoohh. Tewluwr Agha pecah. Agha tadi nggak ati-ati Yayyoo,” katanya sesenggukan melihat pecahan telur di lantai. Antara kasihan dan ingin tertawa melihat wajahnya yang lucu, saya pun menghampiri sambil mengatakan kepadanya untuk tidak menangis.

“Nggak apa-apa, makanya lain kali hati-hati memegang telur ya Nak,” hibur saya disambut anggukan seraya mengusap pipinya yang basah. “Sudah nggak apa-apa. Yahyo nggak marah kok. Nanti Yahyo bersihkan lantainya.”

Tak lama dia pun meminta untuk menelpon Bunli yang sedang akan mengajar. Dia mau memberi laporan tentang pecahnya telur serta ingin meminta tolong Bunli untuk membelikan telur sepulangnya dari ngajar.

“Bun, Agha tadi pecah tewrluwr. Agha tadi nggak ati-ati Bun. Maf,” katanya masih terisak. “Bun, nanti towlong beli Agha tewrluwr lagi kawlow Bunni puwlang. Bewli yang banyak Bun, jadi kawlaw pecah masih ada lagi.” Diusapnya matanya yang masih sedikit basah sambil mendengarkan nasehat Bunli di telepon.

Terdengar sayup-sayup suara Bunli menasehatinya, “Nggak perlu beli banyak-banyak, secukupnya saja. Yang penting, lain kali Agha hati-hati kalau bawa telur ya.” Agha mengangguk. Wajahnya kembali ceria walau pipinya masih terlihat basah. Setelah berpamitan di telepon, dia kembali main kereta api sambil menunggu nasi keju parut sebagai gantinya telur orak-arik.



Isi Komentar