Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Bunli Yang Hebat

Dikirim: December 18th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | Belum Ada Komentar »

Sudah cukup lama saya tidak mengajak Agha makan siang di luar. Kemarin, saat Bunli (nama panggilang Bundanya Agha) meeting di kampus, saya pun berinisiatif mengajaknya makan siang sambil menunggu Bunli.

“Yayyoo, kawlo nanti sampe, kita pesen minum aja. Pijjanya pesen nanti aja kawlo Bunli udah datang. Kawrena Yahyo nggak hebat kawlo pesen pijja,” katanya dalam perjalanan.

Sadar dengan dosa yang pernah saya lakukan saat memesan pizza yang tidak dia sukai, saya pun bilang, “Waaah, Yahyo nanti akan pesan pizza yang enak deh buat Agha. Kemarin itu Yahyo coba pizza yang lain, karena bosan kan pizzanya itu-itu saja?” Agha diam dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah makan Pizza yang tak jauh dari kampus dimana Bunli meeting.

Sesampainya di tujuan, Agha langsung berjalan masuk dan memilih bangku yang dia suka. Lalu seorang pramusaji menghampiri kami membawakan menu. “Mbak, tolong kasih dia satu menu juga. Dia juga ingin melihat menu,” kata saya sambil menunjuk Agha yang seolah hendak protes karena karena tak diberi menu. Agha pun sumringah saat pramusaji memberikan menu kepadanya.

 “Ade namanya siapa?” tanya pramusaji yang sejak tadi melihat Agha tak henti-hentinya mengoceh. “Agha,” jawabnya singkat. Lalu dia sibuk membuka-buka buku menu sambil mulutnya komat-kamit seperti membaca. Terlihat senyum gemas dari pramusaji melihat Agha yang berlagak bisa membaca.

“Yayyo mo pesen apa?” tanya Agha seolah dialah yang akan mentraktir Ayahnya.

“Sebentar ya Gha,” jawabku lalu menanyakan beberapa hal sehubungan dengan pilihan-pilihan pizza yang ada di menu kepada pramusaji. Suatu hal yang nanti akhirnya saya pahami, mengapa saya dikatakan Agha tidak hebat saat memesan pizza.

“Mmmm, Yahyo pesan ini ah. Sepertinya Agha suka.” Lalu saya pun memesan salah satu Pizza yang belum pernah dia makan serta minum yang tak mengandung soda. Agha memangguk tanda setuju. “Agha mau sup sayur?” tanyaku yang juga dibalas dengan anggukan.

“Agha mo sup, kawrena Agha udah lapawr. Kalo tunggu pijja, Agha keburu lapawr.” Pramusaji tak sanggup menyembunyikan senyum mendengar Agha yang secara tidak langsung ingin mengatakan agar pesanan Pizzanya jangan terlalu lama.

“Pizzanya ditunggu 15 menit ya Pak,” info paramusaji ramah sambil menjawil pipi Agha yang masih terus sibuk membuka-buka buku menu.

Pramusaji itu pergi setelah mengucapkan kata-kata standar dengan gaya membungkuk disertai tangan di dada. Kadang muncul perasaan aneh melihat gaya mereka yang kaku dan tidak natural. Tapi begitulah standar prosedur yang mereka lakukan untuk melayani tamu. Setelah itu pramusaji datang kembali dengan membawakan mangkok kosong. Lalu saya pergi mengambilkan sup sayur yang letaknya tak jauh dari tempat kami duduk. “Agha disini saja, Yahyo ambil sup sayur dulu ya.”

Tak lama saya pun kembali dengan membawa mangkok berisi sup sayur. “Agha mo di suapin Yayyoo,” pintanya. Lalu saya suapkan sup sayur itu dengan meniupnya terlebih dahulu agra dingin. Kepulan uap air terlihat keluar dari mangkok sup yang panas karena aliran AC di ruangan.

“Tidak kepanasan kan Gha?” Dia menggeleng sambil mengatakan tidak dengan bahasanya. Mulutnya yang mungil mengunyah sup sayur itu.

Hujan diluar diluar begitu deras. “Yayyoo, Bunni nanti kita jemput aja. Bunni nggak bawa payung. Payungnya ada di mobiii. Nanti kawlo nggak dijemput Bunni keujanan.” Saya tersenyum melihat betapa sayangnya dia kepada Bunli, sampai-sampai dia ingat kalau Bunli tidak menbawa payung.

“Ya nanti mudah-mudahan saat Bunli selesai meeting, hujannya reda. Jadi Bunli nggak kehujanan,” harap saya melihat betapa derasnya hujan saat itu. “Kalau nanti memang belum reda, ya kita jemput saja Bunli ke kampus. Jadi Bunli nggak kehujanan. Ok?” Agha menjawab dengan anggukan, Matanya terus melirik ke jendela melihat hujan membasahi pelataran parkir.

“Mobii Agha dimandiin,” katanya disela-sela mengunyah sup sayur. Langit begitu gelap membuat suasana siang seperti sore. Saya mengambil tablet dan mulai menuliskan cerita sambil menyuapkan sup sayur ke Agha. Sesekali saya berhenti menulis untuk menjawab beberapa pertanyaan Agha. Dari mulai pertanyaan kenapa dia tadi tidak boleh membeli mainan kereta api yang dilihat, kenapa sup sayurnya terlihat seperti ada asapnya hingga pertanyaan lain yang tidak ada hubungannya dengan pertanya-pertanyaan sebelumnya.

“Agha mau bawlon,” katanya tiba-tiba teringat bahwa di rumah makan pizza ini, anak kecil biasanya mendapatkan balon. Saya bilang kepadanya untuk meminta balon langsung kepada pramusaji yang saya sebut kepadanya sebagai tante.

“Tante, Agha mo bawlon,” mintanya kepada pramusaji yang kebetulan ada di samping meja.

“Mbak, anak saya minta balon. Tolong ya. Tapi buatkan yang bentuknya binatang saja, bukan pedang atau pistol,” bisik saya kepada pramusaji. Lalu Agha turun dari kursi dan jalan bersama pramusaji itu untuk melihat bagaimana balon itu dibuat menjadi bentuk-bentuk yang lucu. “Ayo sana, sendiri ya, nggak perlu ditemani Yahyo.”

Dari tempat dimana saya duduk, terdengar suara Agha tertawa cekikikan karena digoda pramusaji yang mengitarinya. “Bawlonnya sepewrti kodok,” katanya teriak. Lalu terdengar juga teriakannya yang mengatakan balonnya seperti binatang yang lain. Tak lama Agha kembali membawa balon yang dikatakannya sebagai guguk (anjing).

“Agha sudah bilang terimakasih belum sama tante?” tanya saya kepada Agha. Ya, saya membiasakan dia untuk selalu ingat mengucapkan terimakasih kepada orang yang telah memberinya sesuatu.

“Oh iwya, Agha upa,” jawabnya lalu berlari kembali ke arah pramusaji yang tadi membuatkannya balon. Lalu terdengar suaranya yang nyaring dikejauhan, “Tewrimakasih.” Setelah itu dia berlari kembali ke tmpat duduk dan memain-mainkan balon itu di meja makan.

Tak terasa setengah mangkok sup sayur habis dilahap ketika pesanan pizza yang dinanti datang. Agha terlihat girang, “Agha mau makan pijja, sup sawyurnya buat nanti aja. Kawlo Agha makan sup sawyur tewrus, nanti Agha kewnyang. Nanti Agha nggak bisa makan pijja kawrena kenyang.” Saya pun menangguk setuju. Lalu saya ambilkan satu slice pizza untuk dipotong-potong.

“Nah, coba nih pizza yang belum pernah Agha pesan. Pasti enak.” Setelah itu saya suapkan satu potong kecil pizza ke mulutnya, dan dia pun mengunyah. Lalu saya suapkan lagi potongan pizza yang lainnya setelah kunyahan pertama habis di mulut.

“Gimana Agha? Enakkan pesanan Yahyo? Hebat nggak Yahyo?” tanyaku sedikit cemas kalau-kalau dia ternyata tidak suka.

Raut wajahnya terlihat serius berpikir dengan mulut yang terus mengunyah. Lalu dengan sungguh-sungguh di katakan, “Nanti duwlu!”

Entah kenapa saya tiba-tiba tertawa mendengar jawabannya. Seperti ucapan seorang juru rasa yang sedang memikirkan apakah pizza yang dimakannya ini layak dikategorikan enak. Dia terus mengunyah tanpa menghilangkan raut muka yang serius.

“Pijjanya enak Yayyoo,” ujarnya tak lama kemudian setelah menelan pizza di mullutnya. Sebuah jawaban yang benar-benar membuat hati ini senang.

“Jadi Yahyo hebat juga kan? Sama hebatnya dengan Bunli?” tanya saya sambil tersenyum bangga.

“Masih hebat Bunni,” jawabnya lurus. “Kawlo Bunni pesan pijja nggak tanya-tanya kaya Yayyoo. Kawlo Bunni pesan, pesan ajah nggak tanya-tanya, tewrus pijjanya datang. Kawlo Yayyoo pesan tapi tanya-tanya duwlu.”

“Ah Bunli juga kalau pesan tanya-tanya dulu,” bela saya sedikit komplen.

“Ndaaak. Bunli kawlo pesan cepat,” katanya membela Bunli.

Saya pun tersenyum, Bunli memang lebih hebat dari Yahyo. Menjadi seorang Ibu dari seorang anak adalah hal yang paling mulia di bumi ini. Betapa capeknya dia mengurus, namun tak sedikit pun mengeluh. Padahal, selain megurus anak, seorang Ibu adalah juga seorang istri yang juga wajib mengurus suaminya. Pantaslah jika surga ada dibawah telapak kaki Ibu. Dan sungguh saya senang saat Agha mengatakan bahwa Bunli lebih hebat dari saya. Nyatanya memang Bunli benar-benar hebat.



Isi Komentar