Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Doa dan Nasi Tim

Dikirim: December 16th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Makanan dan Minuman | 4 Komentar »

Agha sangat suka nasi tim. Dan salah satu nasi tim favoritnya adalah nasi tim di Bakmi Parahyangan yang ada di rest area tol Cipularang km 97 menuju Jakarta. Sayang beberapa kali kesana sepulang dari Bandung, nasi tim sudah habis. Hari ini, setelah kemarin menghadiri undangan nikah keponakan, kami bergegas pulang ke Jakarta. Lalu seperti biasa, kami berniat mampir di rest area itu dan berharap nasi tim masih tersedia.

“Agha, Agha berdoa mudah-mudahan nasi timnya masih ada,” saran saya yang disambut dengan anggukan. Lalu Agha pun berdoa yang isinya adalah harapannya agar bisa makan siang dengan nasi tim kesukaannya.

“Ya Allah, semoga kayi ini nashi tim yang Agha suka masih ada. Jadi Agha bisa makan dengan nashi tim. Amin.” doanya.

“Kita kesana, sekayi makan,” tambahnya meyakinkan diri bahwa kami akan mampir ke tempat itu.

“Sekali makan? Maksudnya sekalian makan kali,” kata Bunli membenarkan ucapan Agha. Agha selalu lupa menambahkan imbuhan ‘an’ atau ‘in’ sehingga banyak ucapannya yang terlihat janggal seperti, dibewrsih yg maksudnya dibersihin, dibewres yang artinya diberesin, dan masih banyak kata lainnya.

Dalam perjalanan menuju rest area, dia pun mengimaginasikan bentuk awan mendung yang terlihat. Ada yang katanya mirip ikan, kodok, dinosaurs dan sebagainya. Belum lagi ocehan mengarang indah mengenai kisah Thomas, kereta api kesayangannya. Semua membuat perjalanan menjadi penuh hiburan yang tidak jarang membuat kami ngakak mendengarnya.
Tak lama kami pun tiba di rest area tujuan. Agha penuh semangat berjalan menuju rumah makan Bakmi Parahyangan. Dan betapa senangnya dia saat mengetahui nasi tim masih tersedia. Kami pun memesan 1 porsi nasi tim untuknya dan tentu Bakmi yang enak itu untuk kami berdua.

“Bun, nasi tim Agha mana?” tanyanya tak sabar menunggu pesanan tiba. Dan saat pesanan tiba, dia pun makan dengan lahap. Dia mulai belajar arti sebuah doa, dan alhamdulillah kali ini doanya didengar untuk diwujudkan.

Saat kami hendak pulang, dia pun bilang kepada pelayan rumah makan, “Om, nashi timnya atu wlagi. Dibwungkhus. Buat malam Agha makan.” Dan saat nasi tim yang dibungkus itu tiba, dia pun bilang, “Tewrimakasih.”


4 komentar untuk “Doa dan Nasi Tim”

  1. 1
    Wade
    berkomentar pada jam 6:12 pm
    tanggal 22 November 2014

    .

    áëàãîäàðåí!

  2. 2
    terrance
    berkomentar pada jam 1:08 am
    tanggal 24 November 2014

    .

    tnx for info!!

  3. 3
    shane
    berkomentar pada jam 4:08 am
    tanggal 25 November 2014

    .

    ñïàñèáî çà èíôó!!

  4. 4
    Franklin
    berkomentar pada jam 12:37 pm
    tanggal 27 November 2014

    .

    ñïñ çà èíôó!


Isi Komentar