Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Tasuk!!

Dikirim: December 14th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Definisi Kata | 1 Komentar »

“Yayooo, iyat tuh, tasuk,” teriak Agha tiba-tiba. Saya yang sedang menyetir bingung mendengarnya. “Tasuk Yayooo,” teriaknya lagi.
“Tasuk itu apa Agha?” tanyaku bingung. Sesaat dia teriak lagi dengan bunyi yang sama berulang-ulang. Kadang seperti inilah menghadapi anak yang sedang belajar bicara banyak. Kata-katanya kadang tidak jelas terdengar, namun dia merasa sudah sangat jelas.

“Taaaa Suk,” katanya berusaha menurunkan volume suaranya agar lebih jelas. Sementara saya tetap tidak mengerti apa maksudnya. Memutar ingatan berusaha agar tahu apa yang dimaksud. Dan tentu karena tidak ingin mengecewakan wajah mungil itu, karena berusaha bicara jelas.

“Taaaa Suk?’ tanya saya mengikutinya, dia pun menggelengkan kepala. “Maa Suk?”

“Buthan, taaaaaa Suk, ” potongannya mulai kesal. “Taaaa Suk!” suaranya mulai meninggi.

“Agha, coba terangkan Tasuk itu seperti apa? Jangan marah-marah dulu. Yahyo benar-benar nggak tahu apa maksudnya,” kataku menyerah. Matanya mulai terlihat melirik ke kiri dan ke kanan, mencari ide untuk menjelaskan ke Ayahnya yang sudah menyerah. Saya berharap dia bisa menemukan alternatif kata lain agar kebuntuan komunikasi bisa teratasi.

Terbiasa sejak kecil diajak bicara, bahkan saat masih berumur hitungan hari dan bahkan sejak dalam kandungan. Hal ini ternyata membuat Agha memiliki kosa kata yang luar biasa banyak. Sayang, banyak sekali orang tua mengabaikan untuk mengajak bayinya berbicara, katanya, “Buat apa karena si bayi belum mengerti?” Padahal bayi sudah belajar komunikasi melalui suara sejak dalam kandungan. Bahkan dalam agama yang saya anut, bayi sudah diberi azan di telinganya sesaat setelah lahir. Jelas ini merupakan pesan kepada orang tuanya. Selain untuk selalu memberitahukan kebenaran, hal ini juga mengajarkan kepada orang tuanya untuk selalu membangun komunikasi kepada anaknya sejak dini.

“Yayooo, mobiii banyak. Nggak jayyan, ” katanya memecah lamunan. “Taaaa Suk, ” sambungnya.

“Astaga, Maaaa Cet. Ya kan?” jawabku meminta konfirmasi. Agha pun tersenyum sambil mengulang kembali kata tak jelas tadi. Sesaat saya ajarkan bicara yang benar, bukan tasuk tapi macet.

“Tacet, ” katanya berusaha untuk berbicara benar dan kami pun tertawa berdua melanjutkan perjalanan.


Satu komentar untuk “Tasuk!!”

  1. 1
    harvey
    berkomentar pada jam 9:54 pm
    tanggal 24 November 2014

    .

    good info.


Isi Komentar