Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Harmoko

Dikirim: December 14th, 2012 | Oleh: | Kategori: Diary | Belum Ada Komentar »

Siapa yang tidak ingat dengan Harmoko? Mentri dari Departemen yang sudah ditiadakan ini dulu terkenal dengan kata-katanya, “Menurut petunjuk bapak Presiden.”

Begitu banyak yang bosan bahkan muak dengan Bapak yang satu ini. Tapi perlu diakui juga, karena sikap itulah dia selalu selamat dari dinamika sosial politik bangsa ini. Bahkan tak sedikit pun dia terkena kasus di masa reformasi.

Ternyata cara bapak yang satu ini pun telah mengilhami banyak sekali orang. Lihat saja di sekitar kita, barapa banyak orang yang melakukan sesuatu dengan bersandar pada keputusan orang lain. Dan ketika merasa keburukan akan datang, dengan mudah dia katakan, “Kami lakukan karena pimpinan kami telah diberi pentujuk seperti itu oleh pimpinan kami.” atau dengan versi yang lain. “Kami lakukan atas instruksi pimpinan kami.”

Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah memberi masukan kepada pemimpin yang akan memutuskan sebuah perkara? Jika sudah, maka tidak sepatutnya kita mengembalikan kepada pimpinan ketika kondisi buruk terjadi. Sebaliknya, mengatakan, “Ya pimpinan telah memutuskan dan menginstruksikan hal tersebut atas masukan dari saya,” adalah perkataan seorang yang memiliki rasa tanggung jawab atas apa yang dilakukannya.

Namun ada kalanya kita sudah memberikan masukan namun pemimpin tak mendengar atau tak mau mendengar. Sementara instruksinya mungkin saja diluar jangkauan kemampuan atau tidak realistis. Disinilah muncul pertentangan batin antara hendak melaksanakan perintah pimpinan atau tidak melaksanakan karena memang tidak sepakat.

Ah, kalau saya diposisi itu, kecuali instruksi dari Tuhan, kenapa tidak berani untuk mengatakan tidak. Katakan “Saya tidak bisa mengerjakan instruksi tersebut”. Tentu dengan alasan yang logis bukan karena sekedar malas.

Kenapa sulit sekali untuk mengatakan tidak kepada sebuah instruksi yang bertentangan dengan kemampuan? Apalagi tidak mengena di hati. Sementara perintah dari Tuhan pun kadang kala kita abaikan :(



Isi Komentar