Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Jalan Kuningan

Dikirim: December 13th, 2012 | Oleh: | Kategori: Nostalgia | 1 Komentar »

Lebih dari 30 tahun yang lalu, saat diajak jalan-jalan keliling Jakarta oleh Paman bungsu dari Ayah. Saya melihat Jalan Kuningan Jakarta yang masih sepi dimalam hari. Lampu jalannya berwarna kuning membuat saya takjub. Lampu seperti itu membuat warna baju nampak berbeda. Dan tentu, lampu seperti ini belum ada di Bandung kala itu.

Paman saya bilang, “Garta.” begitulah panggilan saya di keluarga. “Nama jalan ini Kuningan, karena lampunya kuning.” Saya tak terlalu memperhatikan wajah Paman saat mengatakan itu karena sedang asik melihat lampu-lampu kuning yang berjejer banyak di sepanjangn jalan. Melalui jendela mobil yang melaju, saya nikmati fenomena lampu itu yang memiliki efek lucu pada warna baju yang saya kenakan.

Sekembalinya ke Bandung, saya pun dengan bangga menceritakan pengalaman saya ke Jakarta melihat lampu kuning ke kawan-kawan. “Di Jakarta, ada jalan yang semua lampu jalannya kuning. Makanya namanya Kuningan,” cerita saya dengan sangat yakin. Teman-teman kecil saya begitu terpukau dengan cerita itu. “Kapan-kapan kalau ke Jakarta, harus lihat jalan itu. Jalan Kuningan.”

Tak disadari, waktu terus berjalan dan saya pun tetap meyakini candaan Paman saya itu, bahwa jalan nama jalan Kuningan berawal dari lampu jalannya yang berwarna kuning. Hingga suatu hari saya berdebat dengan kawan SD yang berasal dari Jakarta. “Itu bukan gara-gara lampunya kuning Yo, tapi nama jalannya memang Kuningan,” katanya meyakinkan. Kami berdua pun terlibat perdebatan hingga Bapak kawan saya itu turut menjelaskan, bahwa nama jalannya memang Kuningan, bukan gara-gara lampunya kuning. Saat itulah saya sadar, bahwa keyakinan saya terhadap asal mula jalan Kuningan benar-benar salah total!

Saya tuliskan ini karena tiba-tiba saja rindu dengan Paman bungsu Ayah saya itu. Beliau telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Paman yang senang sekali bercerita dan sangat mirip dengan Ayah saya. Teringat saat beliau memeluk saya di rumah sakit, “Garta, maafkan Om ya, Om belum sempat lihat anaknya Garta.” Rupanya itu pelukan terakhir dari beliau. Beberapa hari kemudian beliau dipanggil yang Maha Kuasa.


Satu komentar untuk “Jalan Kuningan”

  1. 1
    Brandon
    berkomentar pada jam 12:53 am
    tanggal 21 November 2014

    .

    áëàãîäàðåí.


Isi Komentar