Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Gelas Pecah

Dikirim: December 10th, 2012 | Oleh: | Kategori: Agha, Pengetahuan | 1 Komentar »

Seperti biasa, Agha bertanya saat kegiatan bertanya apa saja kepada ayahnya dilakukan. “Kenapa kalau megang gewlas hawrus ati2 Yayyoo?”

“Harus hati-hati karena jika tidak hati-hati, gelasnya jatuh nanti pecah, ” jawab saya singkat.

” Kalow gewlas ato piwringnya pecah?” tanyanya lugu.

Sesaat saya sadar, ternyata hingga umur 3.5 tahun, Agha tak pernah sekali pun memecahkan gelas. Padahal tidak sedikit barang-barang pecah belah pernah dia pegang dan dibawanya. Dari gelas hingga piring kaca. Ya, Agha tidak pernah mengenal ngedot. Sejak umur 1 tahun kurang sudah minum dari gelas.

“Agha mau lihat bagaimana jika gelas pecah?”

“Mau,” jawabnya sambil menganggukan kepala. “Kalo pecah?” ” tanyanya lagi penuh rasa penasaran.

Akhirnya kemarin sore saya membeli sebuah gelas murah seharga Rp. 3.000. Saya tidak mau memilih sebuah gelas yang ada di rumah. Pesan saya kepadanya, saya harus beli gelas untuk dipecahkan dengan harapan munculnya sebuah pengertian. Pengertian bahwa yang namanya percobaan harus dilakukan pada sebuah barang yang memang dipersiapkan untuk dijadikan percobaan. Bukan sembarang barang.

Malamnya, saya perlihatkan bagaimana jika gelas itu dijatuhkan di lantai. Bunyi pecahnya yang nyaring membuat dirinya terlihat takjub. Lalu saya terangkan Bahwa pecahan beling yang berserakan di lantai itu bahaya. Saya contohkan pecahan beling itu bisa menyobek kertas dengan sangat mudah.

“Nah, Agha sudah lihat kenapa memegang gelas atau piring harus hati-hati. Kalau tidak hati-hati dan jatuh bisa pecah seperti ini. Dan pecahannya bisa membuat luka,” terang saya. Dia pun mengangguk. Lalu saya tanyakan sesuatu agar saya yakin, “Agha boleh nggak memecahkan gelas?”

“Nggak bowleh Yayyoo.”

“Lalu kenapa Yahyo tadi boleh memecahkan gelas?”

“Tadi Yayyoo pecahin gelas kawrena buat kasih tahu Agha aja,” jawabnya diluar dugaan.

Ya, terkadang kita harus ajarkan sesuatu kepada anak dengan sebuah praktek agar dia paham. Dan malam kemarin Agha mendapatkan pelajaran yang sungguh membuatnya puas. Dia memilih naik ke bangku kecil miliknya saat Bunli membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai. “Agha nggak bowleh jawlan-jawlan duwlu. Nanti kena kaca,” katanya dengan wajah polos. Saya pun menciumnya sambil mengatakan, “Anak pinter.”


Satu komentar untuk “Gelas Pecah”

  1. 1
    richard
    berkomentar pada jam 8:49 am
    tanggal 27 November 2014

    .

    thanks for information!!


Isi Komentar