Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

User Review: Ubuntu Desktop 9.10 (Karmic Koala)

Dikirim: November 9th, 2009 | Oleh: | Kategori: Ubuntu | 7 Komentar »

Sudah seminggu ini saya menggunakan Ubuntu versi terbaru yang keluar pada tanggal 29 Oktober 2009 menggantikan Ubuntu versi 9.04 (Jaunty Jackalope) yang sudah saya pergunakan selama 6 bulan. Selama 6 bulan? Ya, karena Ubuntu akan selalu mengeluarkan versi terbarunya setiap 6 bulan. Berikut beberapa hal yang bisa dilihat secara kasat mata sebagai peningkatan dari Ubuntu versi sebelumnya:

  • Berbeda dengan versi 9.04 yang bermasalah dengan video graphic Intel, pada versi ini saya tidak menemukan hambatan sedikit pun terhadap hal ini. Kinerja graphic intel kelihatan benar-benar dioptimalkan tanpa harus mengubah sedikit pun setting yang ada.
  • Tampilan pada saat start yang lebih terlihat elegan dan (katanya) lebih cepat dibandingkan dengan versi sebelumnya.

Saya pribadi tidak terlalu melihat penambahan kecepatan signifikan saat proses boot.

  • Tampilan icon-icon aplikasi yang lebih terlihat manis. Selain itu, icon-icon yang biasanya terdapat pada setiap tombol juga dihilangkan secara default.
  • Penggatian default internet messaging yang semula menggunakan Pidgin menjadi Empathy.

Namun saya tidak menyukai Emphaty sehingga memutuskan untuk menginstall dan kembali menggunakan Pidgin.

  • Take Screenshot sebagai salah satu Accessories bawaan telah memiliki fitur Select Area to grab, yakni fitur untuk menangkap layar dalam area yang kita tentukan.
  • Jika pada Ubuntu versi sebelumnya harus menginstall dontzap untuk mengaktifkan tombol Ctr-Alt-Backspace, maka pada versi kali ini hal tersebut tidak perlu dilakukan. Cukup mengubah setting yang disediakan di Layout Keyboard.
  • Ubutu One terinstall sebagai utility bawaan.

Ubuntu One adalah layanan seperti halnya dropbox, yakni fitur yang digunakan sebagai  hardisk virtual. Sayang, meskipun versi gratisnya memberikan space sebesar 2GB kepada penggunanya, namun kemungkinan menjadi tidak terlalu terpakai oleh masayarakat Indonesia karena aksesnya yang tidak terlalu cepat. Hal ini dikarenakan server Ubuntu One tidak terletak di jalur Internet lokal. Mmmm, kapan ya layanan Ubuntu One ini ada di server yang diletakkan di jalur internet lokal?

  • Perubahan fitu Add/Remove Software menjadi Ubuntu Software Centre yang lebih informatif. Fitur ini bukan hanya memberikan keterangan lengkap mengenai software-software yang disediakan secara free namun juga memberikan screenshot sebagai gambaran atas software yang akan diinstall.
  • Penambahan Safely Remove Drive untuk benar-benar memutuskan hubungan antara media removable/portable dengan sistem.
  • Bagi yang terbiasa menggunakan repository dari PPA, tersedia perintah baru yakni add-apt-repository. Dengan perintah ini, pengguna tidak perlu lagi disibukkan jika penambahan tersebut membutuhkan GPG key.
  • Game permainan Logika dipisahkan dalam menu tersendiri. Yang ini kelihatannya tidak terlalu penting ya?

Yang menjadi catatan disini adalah, saya melihat peningkatan demi peningkatan setiap penggantian versi Ubuntu ke versi yang lebih baru tanpa harus menambah atau mengganti hardware yang saya pergunakan. Saya menggunakan Ubuntu 100% sejak versi 7.04, artinya hingga saat ini saya sudah melakukan penggantian versi Ubuntu sebanyak 5 kali dan semuanya tetap berjalan pada mesin yang sama. Kalau pun ada penggantian hanyalah penggantian hardisk yang penuh. Penuh bukan akibat membengkaknya sistem operasi beserta aplikasinya, namun akibat data yang saya miliki semakin banyak :)


7 komentar untuk “User Review: Ubuntu Desktop 9.10 (Karmic Koala)”

  1. 1
    mautauaja
    berkomentar pada jam 2:38 pm
    tanggal 10 November 2009

    pertamax.
    Saya pribadi masih memilih Ubuntu 9.04 (aslinya distro Linux Mint 7) karena sudah terasa mantap untuk fungsi sehari-hari. Nanti kalau sudah habis masa garansinya, baru upgrade ke Ubuntu terbaru nanti.

  2. 2
    andri
    berkomentar pada jam 11:41 pm
    tanggal 10 November 2009

    Waaah, saya malah belum nyoba yang versi desktop bang riyo, kemaren pas kedatengan 3 server baru langsung saya fresh install pake karmic koala yang versi server, tampilannya…? masih seksi dengan bash nya :mrgreen:

  3. 3
    Andy MSE
    berkomentar pada jam 11:54 pm
    tanggal 11 November 2009

    saya telah menggunakan Ubuntu di mesin seleyon yang sama sejak 8.04… ternyata masih kuat juga nyampe versi terbaru… benar2 hebat, tampil kuat tetap enteng…

    *tapi sepertinya saya akan kembali ke Mandriva One 2010.0 nih* hehehe

    oh ya, bu noor ternyata suka karmic juga karena ada fitur otomatis mematikan touchpad pada waktu mengetik, jadinya mengurangi kemungkinan touchpad kesenggol tak sengaja, entah saya yang katrok atau belum tahu, sy lupa apa di jaunty sudah ada ya?…

  4. 4
    rangga aditya
    berkomentar pada jam 5:41 pm
    tanggal 18 November 2009

    Keren emang tuh si koala. saya juga akhirnya merelakan blankon 5 di laptop saya sama super os 9.04 di laptop adek saya supaya bisa menikmati koala yg sekarang tampilannya mulus alias smooth. Sama win7 tampilannya 11-12 deh! :))

  5. 5
    aanwae
    berkomentar pada jam 12:26 pm
    tanggal 4 February 2010

    yang gw g’ suka sama karmic cuma konfigurasi grub 2-nya yang rada ribet. kalo grub-nya jaunty kan gampang masih pake yang versi 1. itu sebabnya gw masih pake jaunty sampai saat ini…

  6. 6
    Trying Mandriva One 2010.0 GNOME | KECaKOT
    berkomentar pada jam 5:06 am
    tanggal 16 April 2010

    […] satu paket bilamana membeli Mandriva Powerpack~ di: http://howtoforge.com (link ini info dari oom Riyogarta di tulisan sebelum […]

  7. 7
    Sergio
    berkomentar pada jam 7:38 am
    tanggal 25 November 2014

    .

    ñïñ!!


Isi Komentar