Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Berbagai Permasalahan Pada Pemilu 2009

Dikirim: February 19th, 2009 | Oleh: | Kategori: Spesial | 33 Komentar »

Ini adalah tulisan pertama dalam blog Catatan yang mengusung isu seputar Pemilu 2009. Sejujurnya, saya sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti ini, hanya saja melalui perjalanan panjang, pada akhirnya saya ikut menjadi pengamat tidak sengaja akibat keusilan saya sendiri :( Catatan ini saya tulis apa adanya tanpa sedikit pun niat untuk membuat Anda semua pesimis. Saya hanya mengharapkan Anda semua menjadi tahu bahwa inilah permasalah yang menghantui pesta demokrasi negara kita. Dan tentu, harapan saya adalah munculnya segenap usaha untuk peduli dari semua kalangan masyarakat agar Pemilu 2009 berjalan lancar. Berikut beberapa catatan hasil pengamatan tidak sengaja dari saya.

Awas! Tulisan ini panjang dan melelahkan untuk dibaca :d

Coblos Versus Centang/Contreng

Pemilu kali ini dilakukan dengan membubuhkan tanda centang/contreng menggunakan pulpen dengan sebuah alasan mulia, yakni anggapan mencontreng adalah cara yang lebih cerdas dibandingkan mencoblos. Namun perlu diketahui, dampak utama dari diberlakukannnya sistem mencentang/mencontreng disamping pembengkakan biaya –karena mengganti sebatang paku dengan sebuah pulpen–, juga kesulitan yang akan muncul ketika penghitungan suara dilakukan yang berimplikasi kepada masalah waktu. Anda bisa membayangkan, melihat sebuah centangan/contrengan dibandingkan melihat sebuah coblosan pada kertas yang cukup besar. Sistem coblos sangat mudah terlihat, sementara sistem centang/contreng membutuhkan ketelitian mata yang jauh lebih melelahkan. Apalagi dengan kondisi pulpen yang sudah tipis dan di gores pada foto atau gambar yang sewarna dengan pulpennya. Dibutuhkan mata dan penerangan yang baik untuk bisa melihat semua itu dengan teliti. Hal ini masih ditambah lagi dengan ketentuan sah atau tidak sahnya hasil centangnya/contrengnya, bentuk centang/contreng, letak centang/contreng dan jumlah centangan/contrengan. Hal ini semakin menjadi masalah ketika sosialisasi kepada masyarakat sebagai calon pemilih kurang memadai. Akibatnya muncul potensi suara tidak sah sebesar 21%  akibat bentuk contreng.

Banyak iklan para Caleg yang bisa dilihat di sepanjang jalan dan juga di beberapa kendaraan umum memberikan contoh posisi centang/contreng keluar dari kotaknya. Saya tidak tahu pasti apakah hal tersebut bisa dianggap sah atau tidak jika dilakukan saat pemilihan nanti. Jika ternyata diputuskan bahwa mencentang/mencontreng hingga goresannya keluar dari kotak adalah tidak sah, maka banyak Caleg turut menanggung dosa karena memberikan contoh yang tidak benar dalam iklan-iklannya.

KPU dalam hal ini tidak tinggal diam, peraturan KPU Nomor 35 Tahun 2008 tentang pedoman teknis tata cara pemungutan dan penghitungan suara dalam pemilu legislatif akan segera direvisi untuk mengakomodasi kemungkinan pemberian tanda lain seperti silang atau garis datar. Permasalahannya, bagaimana dengan sosialisasi revisi tersebut? Cukupkah waktunya? mengingat pelaksanaan pemilu sudah tinggal hitungan hari.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 1995, bahasa yang benar adalah Centang, bukan Contreng.

Lembar Suara Versus Bilik Pemungutan suara

Lembar suara dalam Pemilu 2009 berukuran sangat besar sebagai akibat dari jumlah partai yang sangat banyak (Pemilu Legislatif 2009 memiliki 38 partai peserta).  Ukuran yang besar ini ternyata tidak disesuaikan dengan besarnya bilik tempat pemungutan suara dilakukan. Silakan lihat gambar yang saya ambil dalam salah satu simulasi Pemilu dibawah ini.

pemilu01

Kertas yang besar dengan lipatan yang tidak mudah. Berbagai hal akan muncul sebagai dampak dari ukuran bilik yang kecil yang sudah tentu akan merugikan berbagai pihak.

Setiap pemilih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka dan menutup lembar suara kedalam bentuk lipatan yang benar. Akibatnya, antrian akan menjadi panjang dan membuat TPS mengalami kesulitan tutup pada jam yang sudah disepakati.

Ada beberapa pemilih yang membuka lembar suara sambil memegang pulpen. Akibatnya bisa terjadi coretan tidak sengaja yang bisa membuat lembar suara tersebut menjadi tidak sah! Coretan tersebut terjadi –lagi-lagi– akibat membuka lembar suara yang besar didalam bilik yang kecil.

Pada beberapa daerah pilih, lembar suara tidak hanya besar, tetapi juga terdiri dari dua lembar suara. Tentu hal ini semakin membuat pemilih merasa kesulitan, baik saat membuka, melipat bahkan memasukannya kedalam kotak suara.

Penghitungan Manual Versus Penghitungan Elektronik

Entah kenapa, para perancang Undang-undang Pemilu di negara kita ini benar-benar tidak mau mempercayai teknologi. Buktinya, Indonesia tetap memilih menggunakan hitungan manual di abad informasi saat ini. Hitungan secara eletronik diperkenankan, tetapi yang menjadi patokan tetap hitungan manual yang yang hasilnya bisa memakan waktu satu bulan. Padahal selain masalah waktu yang jika dinilai dengan uang adalah sulit, penggunaan IT juga akan memangkas biaya secara signifikan –tentu dengan catatan jika dibuat dengan benar.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan kiranya jika bangsa Indonesia mulai memikirkan untuk menggunakan IT dalam pemungutan suara di tahun 2014 seperti yang telah dilakukan oleh banyak negara maju di dunia. Penggunaa IT dalam pemilu berikutnya bukan hanya membicarakan masalah waktu dan biaya, namun juga sesuatu yang lebih penting yakni masalah transparansi hasil Pemilu.

Excel Versus DBMS

Bahan dasar dari sebuah pemungutan suara tidak lain adalah pemilihnya. Artinya data pemilih sangat memegang peranan atas kesuksesan atau tidaknya sebuah Pemilu. Sayangnya, lagi-lagi IT kurang dimanfaatkan untuk hal ini. Data-data pemilih disimpan dalam file Excel yang memiliki beragam format yang sudah tentu menyulitkan dalam pemeliharaannya. Pemeliharaaan sulit otomatis membuat kualitas data menjadi kurang baik. Inilah salah satu yang membuat DPT memiliki banyak masalah dan membuat KPU berwacana untuk mengubah DPT menjelang Pemilu digelar.

Memelihara data pemilih sebanyak 171 juta dari 33 propinsi bukan lah perkara mudah, apalagi dilakukan menggunakan sistem semi manual seperti yang dilakukan KPU saat ini. Diperlukan sebuah sistem dengan DBMS yang baik sehingga pemeliharaannya jauh lebih mudah dan tentu akan menghasilkan kualitas data yang jauh lebih baik. Saya tidak percaya jika tidak ada satu pun SDM Indonesia yang mampu membuat ini semua dengan biaya yang relatif murah.

Akhir Kata

Banyak hal yang membuat saya pesimis bahwa Pemilu Legislatif tahun ini akan berjalan lancar, diawali dari penggantian coblos menjadi contreng, jumlah partai yang sangat banyak yang berimplikasi kepada banyak hal, mutu dari Data Pemilih Tetap hingga minimnya penggunaan IT dalam mempersiapkan salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia ini. Namun apa boleh buat, the show must go on, tidak ada alasan untuk mundur dan kita semua hanya bisa berharap, berdoa dan membantu sebisanya agar Pemilu 2009 berjalan sukses. Amin.


33 komentar untuk “Berbagai Permasalahan Pada Pemilu 2009”

  1. 1
    waterbomm
    berkomentar pada jam 11:08 am
    tanggal 19 February 2009

    waw.. sepertinya ini pengamatan selama kerja di KPU nih…. ;))

  2. 2
    waterbomm
    berkomentar pada jam 11:09 am
    tanggal 19 February 2009

    tapi beberapa poin saya cukup setuju, dan beberapa poin cukup membuat saya kaget.. :-o

  3. 3
    gagahput3ra
    berkomentar pada jam 12:14 pm
    tanggal 19 February 2009

    Ya mas….setuju sekali saya…. :d

    Saya juga ngeliat persiapan pemilu sekarang ini seperti menunggu kegagalan besar….banyak masalah teknis yang sifatnya praktikal maupun teoretis belum juga selesai…padahal pemilu udah itungan minggu :(

    Untuk 2014, semoga ada tiga hal yang (minimal) bisa diubah : Paradigma Regulator, Migrasi penuh sistem pemilu dengan touchscreen, dan bilik yang benar2 bilik (bukan kotak seng kecil seperti yang sekarang ini. Semoga aja bisa terjadi, karena kalo gak pemilu gak terlalu efektif. Yang milih asal milih aja, males repot2 buka lipetan :huh:

  4. 4
    ekape
    berkomentar pada jam 12:27 pm
    tanggal 19 February 2009

    miriiiis.
    saya bahkan belum tau nih bisa milih ataukah tidak. harus mendaftarkan diri kemana ya bagi warga yang nomaden seperti saya?

    Konon kabarnya percetakan lagi pada lembur ya om? hihihi belum lagi masalh distribusi logistik PEMILU ya?

    semoga lancar deh dan tak menimbulkan kericuhan disana sini :)

  5. 5
    Ananto
    berkomentar pada jam 1:22 pm
    tanggal 19 February 2009

    Setuju ama ekape, hidup nomaden ini menyusahkan di saat2 pemilu… :(

  6. 6
    ridu
    berkomentar pada jam 2:23 pm
    tanggal 19 February 2009

    hahah.. iya itu lembarannya gede banget… jadi repot banget yaa.. seandainya sudah terkomputerisasi, tinggal klik gitu.. jadi enak heeh..

    tapi ya mentok di biaya pasti hahah

  7. 7
    Andy MSE
    berkomentar pada jam 5:20 pm
    tanggal 19 February 2009

    wah… saya pikirbener2 panjang, ternyata cukup ringkas juga :d
    saya paling tidak sepakat dengan cara contreng atau centang.
    mencontreng atau mencentang tidak bisa begitu saja dikatakan lebih cerdas daripada menyoblos.
    *bisa jadi, kelak di suatu jaman, pemilih cukup menekankan jari di layar sentuh, menggantikan coblos, centang, contreng…. :-?
    ini bukan masalah lebih cerdas atau bukan, melainkan lebih cepat dan lebih gampang baik dalam pemberian suara maupun pengolahan datanya. ^:)^

  8. 8
    novi
    berkomentar pada jam 5:33 pm
    tanggal 19 February 2009

    susah memang mengatur negeri ini. apa yang dianggap ideal bagi sekelompok orang belum tentu pas bagi yang lain. tapi keputusan harus segera ditetapkan. jika diskusi terus soal konsep dan teknik memilih bisa-bisa pemilu malah diundur. dan sumpahhh!!!. saya neg liat kepala-kepala dipampang di sepanjang jalan. so, segeralah bulan april. biar bersih jalan-jalanku

  9. 9
    ciwir
    berkomentar pada jam 5:54 pm
    tanggal 19 February 2009

    pemilu memang bermasalah…
    setelah pemilu juga banyak masalah pula…
    mendingan GOLPUT adja dech…

  10. 10
    Pradna
    berkomentar pada jam 6:37 pm
    tanggal 19 February 2009

    [-O< saja…

    karena, sapa tau nanti trus para capres/caleg yg kalah pada protes…trus pemilu ulang! [-(

  11. 11
    ãñÐrî
    berkomentar pada jam 7:32 pm
    tanggal 19 February 2009

    Kalau bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah :dancing:

  12. 12
    Riyogarta
    berkomentar pada jam 9:38 am
    tanggal 20 February 2009

    @ridu
    Kalau menggunakan teknologi justru lebih murah lho. Karena tidak ada biaya cetak kertas (yang besar itu) berikut distribusinya. Tidak ada biaya untuk panitia yang melakukan penghitungan, tidak ada biaya pulpen, tidak ada biaya kotak suara dsb. ;)

    @ciwir
    Haram lho :))
    Btw, kasih input saja, kalau memang niat golput sebaiknya menjadi golput administratif, yakni tetap datang dan membuat contrengan tidak sah pada kertas suara. Ini untuk menghindari kertas suara kosong yang dikhawatirkan bisa disalahgunakan.
    Sementara saya sendiri tidak mengajurkan golput sih, kalau saya tetap memilih, bukan karena fatwa tapi karena ingin melakukannya saja :)

  13. 13
    Rosyidi
    berkomentar pada jam 7:00 am
    tanggal 21 February 2009

    Kalo aku ngomong semuanya terlalu berambisi untuk menduduki kekuasaan. Dan pemerintah tidak mampu mengontrol itu semua. Jadilah kekacauan seperti sekarang ini.

    Seharusnya dibatasi dengan ketentuan yang sangat ketat. jadi jumlah partai bukan bertambah, tapi justru berkurang.

    Banyak partai justru menyengsarakan. Semakin banyak anggaran yang dikeluarkan, rakyat juga semakin bingung.

    Enak di Amerika cuma 2. Tapi enak lagi kalo musyawarah, bukan pemilihan.
    Karena kelemahan paling fatal dari pemilu itu adalah suara terbanyak.
    Dimana itu yg mewakili rakyatnya.
    Coba bayangkan kalau 90% rakyatnya maling. Otomatis yang terpilih juga maling. Jadilah Republik Maling.
    Kalo 90% rakyatnya koruptor, maka yg dipilih ya koruptor juga.

    Yg paling ideal adalah musyawarah.

  14. 14
    Yan
    berkomentar pada jam 7:08 pm
    tanggal 22 February 2009

    Hehe, santai saja om. Orang Indonesia itu hebat2 kok. Ketika banyak yg khawatir dengan pemilihan presiden secara langsung, nyatanya tetap bisa berjalan. Diluar seberapa bagus kualitasnya, tetapi bisa terlaksana. Sekarang khawatir dengan masalah contreng, mudah2an nanti bisa berjalan dengan baik. [-O<

  15. 15
    bambam
    berkomentar pada jam 6:45 am
    tanggal 23 February 2009

    ngomong2 tentang centang mencontreng di kertas yang sangat lebar di bilik yang sangat sempit…
    pertama, rasanya malah bisa aja terjadi dari percetakannya udah terjadi cacat produksi, yang mengakibatkan belum apa2 kesannya udah tercontreng.. eh.. tercentang… trus, mau diapain??
    kedua, waktu yang dibutuhkan seorang pemilih yang sangat lama, bisa bikin orang2 itu ninggalin pekerjaannya selama sehari itu, sehingga bisa jadi akan membuat hari pelaksanaan PEMILU menjadi “Hari Tidak-Produktif Nasional” yang akan menentukan produktivitas nasional 5 tahun ke depan… lucu ya???

    @Rosyidi:
    mohon maaf… memang musyawarah menuju mufakat emang cara terbaik [yang katanya] berdasarkan Pancasila… tapi mau pada ngumpul di mana buat musyawarah???? di Silang Monas?? di Senayan??? gimana caranya ndengerin pendapat yang kebetulan datang terlambat dan duduk di pojokan dekat WC???

    @novi:
    setuju!! saya juga eneg!! harusnya kalo mereka dengan gagahnya pasang kepala2 mereka di sepanjang jalan saat ini, nantinya ketika terpilih, kalo mereka lalai dalam menjalankan tugas, pasang lagi aja kepala2 mereka itu di sepanjang jalan bagaikan buronan yang dicari..

  16. 16
    Riyogarta
    berkomentar pada jam 12:22 pm
    tanggal 24 February 2009

    @Rosyidi
    Musyawarah itu bagus, namun tidak bisa dilakukan untuk 170juta pemilih. Diwakilkan? Kalau diwakilkan ya balik lagi dong ke jaman orba :)

    @Yan
    Mudah2an begitu om Yan … semoga :)

  17. 17
    gosip artis
    berkomentar pada jam 3:22 pm
    tanggal 25 February 2009

    itu koran apa kertas buat contreng? eh istilahnya aneh ya kok contreng :-?

  18. 18
    anton
    berkomentar pada jam 10:48 pm
    tanggal 25 February 2009

    :ohhhh: apa kabar mas, gimana proyek greenhostingnya? masih?phpug nya. boleh gabung mas. ko ga coding sendiri blog nya mas. kn bs bebas bereksperimen. kayak orang kampung saya uda daun salam.

    oh iya cms bedeng ga diteruskan mas?

  19. 19
    Donny Reza
    berkomentar pada jam 3:06 am
    tanggal 26 February 2009

    Oom, saya golput aja, ya? boleh kan oom…? boleh…? [-O<

  20. 20
    agedwards
    berkomentar pada jam 12:32 pm
    tanggal 27 February 2009

    Thanks for Story

  21. 21
    debby
    berkomentar pada jam 1:06 pm
    tanggal 27 February 2009

    menurutq ngapain di adain pemilu segala
    toh…..g ngaruh tuh ama perkembangan di negara yang tercinta neee…
    weeeekkkkzzz ~X( :wishtling: :wishtling: X( X(

  22. 22
    alni
    berkomentar pada jam 4:44 pm
    tanggal 28 February 2009

    IMHO, pemilu mempermasalahkan hal yang tidak penting dan melupakan hal yang penting.
    entah darimanaaaaaa idenya ubah coblos jadi contreng sementara keadaan lagi awut2an. Dan beberapa ratus juta buat penyediaan pena..hehe ada2 aja.
    Perlu belajar menyadari mana yang prioritas.

  23. 23
    toriq faisal yusuf
    berkomentar pada jam 9:55 pm
    tanggal 1 March 2009

    saya kira pemilu 2009 tidak jauh atau hanya sekedar mendaur pemerintahan yang usang dengan uang rakyat..dengan cara yang sedemikian rupa ini benar-benar pemilu yang membingungkan asli??? dan saya yakin pemilu 2009 tidak akan membawa angin perubahan yang mengarah kepada pembentukan iklim yang lebih baik bisa ibaratkan pemilu yang pertama nanti pada tanggal 9 april pemilu legislatif yang pertama tidak lain hanya memberikan peluang atau jalan bagi para maling koruptor untuk beraksi para caleg…. sedemikian banyaknya partai menurut saya bukan merupakan bentuk demokrasi yang ideal melainkan demokrasi yang kebablasan…..!!!! saya bukan mengajak untuk golpot tapi saya hanya menanyakan kepada hati sanubari rakyat indonesia?? apakah pantas ????? ~X oh iya sekalian mengingatkan perang baligo adalah hanya untuk para caleg yang tidak percaya diri!!!!

  24. 24
    Willy
    berkomentar pada jam 10:45 am
    tanggal 10 March 2009

    Entah kenapa, para perancang Undang-undang Pemilu di negara kita ini benar-benar tidak mau mempercayai teknologi

    1. Karena para perancang UU itu gaptek; atau
    2. Alergi dengan transparansi

  25. 25
    robet
    berkomentar pada jam 6:44 am
    tanggal 26 March 2009

    Solusi cerdas mengatasi pemilu yang mahal
    1. mengadakan pemilihan tingkat RT saja, baru calaon RT diajukan ke RW,
    2. Tk RW diajukan ke tk desa dst
    3. pemilihan langsung hanya tingkat RT untuk tingkat RW sampai pusat cuku p di undi.
    Keuntungan
    1. Kita tau benar tentang watak, watek watuk e Calon , krn dari RT kita sendiri
    2. kalo tingkat RW ke atas di undi, tentu dalam meilih wakil kita akan benar2 serius tidak krn uang
    3. hemat biaya……….
    …………………..CERDAS KHAN>>>>>>>>>>>>>>>>>>

  26. 26
    otholo
    berkomentar pada jam 5:42 pm
    tanggal 10 April 2009

    Semoga pemilu lancar..

  27. 27
    mautauaja
    berkomentar pada jam 11:38 am
    tanggal 21 April 2009

    Kira-kira hasil tabulasi, kelar sesuai jadwal gak, ya ?

  28. 28
    nella
    berkomentar pada jam 6:32 pm
    tanggal 1 May 2009

    setuju dengan story nya..tapi kalo Qta emang pengen lebih maju..butuh proses setahap demi setahap..Qta nggak uah pesimis dulu..mari Qta lihat perkembangan selanjutnya..moga pemilunya sukses,,amin

  29. 29
    nunik ningrahayu
    berkomentar pada jam 8:54 pm
    tanggal 7 May 2009

    :)) asslkm
    pak sayamau bertanya mengapa pemilu di tahun ini kok banyak banget permasalahan?????????????????????
    dan saya mnta marilahkita tegakkan hukum ??
    hukum di indonesia TIDAK DIJALAN KAN DENGAN SEMESTINYA??????????????????????????????? :-w ;;) : =)) :)) X(

  30. 30
    Richard
    berkomentar pada jam 12:35 pm
    tanggal 12 October 2012

    gk bermanfaat!!!!!! gjp jasio!!!!!!!!!!!!!!!!!1

  31. 31
    KEVIN EZRA
    berkomentar pada jam 12:37 pm
    tanggal 12 October 2012

    ITS NOT CLEAR YOU FOOL STUPID

  32. 32
    DIO
    berkomentar pada jam 12:41 pm
    tanggal 12 October 2012

    WISELY LOVE RICHARD

  33. 33
    Nuryanti
    berkomentar pada jam 9:44 am
    tanggal 21 November 2013

    asslammu’alaiku..
    saya mau tanya nih, saya lagi dapat tugas untuk menganalisis masalah yang terjadi pada pemilu di Indonesia, dan saya setuju dengan pernyataan bahwa indonesia harus merapkan kecanggihan tekhnologi untuk masalah pemilu ini. kira-kira bagaimana ya sistem yang paling pas untuk menjawab semua permasalahan tersebut mulai dari pemungutan suara, perhitungannya hingga masalah DPT ? mohon bantuannya :)


Isi Komentar


  • *