Sebenarnya saya sudah berkenalan dengan OS berbasis Linux sejak tahun 96. Ketika itu saya memilih distro Red Hat sebagai distro linux yang saat itu –setahu saya– paling banyak digunakan. Hanya kesulitan muncul ketika saya harus mempelajari berbagai perintah di terminal untuk menyesuaikan OS tersebut dengan kebutuhan yang saya perlukan. Lalu saya berpaling ke Mandrake, yang saat itu menurut beberapa teman merupakan distro Linux yang paling user friendly. Nyatanya, kesulitan untuk menyesuaikan OS tersebut dengan kebutuhan tetap saya alami, belum lagi ketidakstabilan dari OS tersebut (mmm, mungkin juga akibat ketidaktahuan saya atas karakteristik OS tersebut).
Usaha demi usaha saya lakukan untuk lebih mencintai Linux dibandingkan Windows yang kerap menjebak pengguna dengan berbagai kemudahan dibandingkan kestabilan dan keamanannya. Saya pun mencoba berbagai distro lainnya, Suse yang cukup memikat hati, Lindows (yang akhirnya menjadi Linspire) yang agak mengecewakan, Slackware yang cukup membuat dahi berkerut, Fedora sebagai OS eksperimen dari Red Hat dan sebagainya. Hingga akhirnya diawal tahun 2006 saya mendengar Ubuntu, distro Linux yang diprakarasai oleh dermawan Mark Shuttleworth.
(Baca lebih Detil …)