Akibat Terlalu Cepat Bekerja
Dikirim: March 5th, 2007 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | 8 Komentar »Rasanya kejadian ini sudah sering saya alami. Kejadian dimana saya dan beberapa kawan saya bekerja sama mengerjakan sesuatu. Sejak dibangku sekolah hingga kini saat saya sedang berusaha mengais rejeki untuk berwiraswasta bersama teman-teman. Alhasil saya sering kesal dengan kondisi seperti ini, dan jeleknya kalau sudah kesal, saya susah untuk konsentrasi mengerjakan hal lain. Duh
Memang disatu sisi, kejadian seperti ini adalah sebuah pelajaran untuk bersabar dan bersabar. Tetapi masak iya pelajarannya tidak selesai-selesai? Atau memang saya belum bisa menempatkan kesabaran saya pada porsi yang tepat? Hingga akhirnya saya pun harus tetap melewati masa pembelajaran untuk lebih bersabar, lebih bisa memahami situasi dan sebagainya.
Rasanya terlalu mengada-ngada jika saya berpikir bahwa saya bekerja terlalu cepat, belajar terlalu cepat atau dengan kata lain saya memiliki kecepatan diatas rata-rata. Sementara orang-orang disekitar saya bekerja dan belajar lebih lambat dari yang saya harapkan. Tidak, saya rasa bukan ini inti permasalahannya. Saya percaya jika saya bisa melakukan sesuatu dengan cepat, maka orang lain pun bisa melakukannya. Sebaliknya, jika orang lain bisa melakukan sesuatu dengan cepat, maka saya pun pasti bisa melakukannya. Atau mungkin saya termasuk orang yang tidak bisa bekerja sama dengan pihak lain? Rasanya tidak juga, berbagai posisi yang pernah saya capai membuktikan bahwa saya –insya Allah– memiliki pola team work yang baik.
Kecepatan kerja sebuah team ditentukan oleh kecepatan dari anggotanya yang paling lambat. Ini terjadi jika anggota yang paling lambat memegang pekerjaan inti. Artinya, untuk meningkatkan performance team work dibutuhkan pemetaan untuk menentukan siapa yang bekerja lambat dan siapa yang bekerja cepat. Yang bekerja cepat diberikan tugas-tugas inti sementara yang bekerja lambat diarahkan untuk bekerja dengan memberikan dukungan kepada para pekerja cepat. Hal ini sering diberlakukan kepada team dimana anggotanya memiliki keahlian yang tidak merata.
Berbeda dengan team dimana masing-masing anggotanya memiliki keahlian yang tidak sama (bukan tidak merata). Disini, pimpinan harus pintar untuk memberikan tugas yang sesuai dengan keahliannya sehingga performance team bisa digenjot meskipun terkadang terlihat adanya ketidakadilan terhadap bobot pekerjaan dari masing-masing anggota team. Kalau sudah begini, maka ketidakadilan bisa diselesaikan dengan memberikan salary yang proporsional meskipun memutuskan hal seperti ini bukanlah hal yang mudah.
Saya sendiri sebenarnya lebih senang untuk memutuskan membagi rata hasil yang didapat dari sebuah proyek yang dikerjakan. Bahkan saya lebih sering memilih pada posisi dimana jatah yang saya terima lebih kecil dibandingkan pekerjaan dan tanggung jawab yang telah saya lakukan. Masak sih
Kayaknya iya deh hehehe
Hanya saya memang sering menolak jika dikatakan demikian karena menurut saya –kembali lagi– karena saya bisa bekerja cepat dan mereka tidak bisa bekerja secepat saya. Alhasil saya terlihat tidak terlalu banyak bekerja dibandingkan yang lain, bahkan beberapa mata mungkin melihat saya santai. Ini karena saya sebenarnya sudah mengerjakan porsi pekerjaan saya lebih cepat dari tengat waktu yang dijadwalkan.
Jadi ingat saat saya masih ngantor, boss selalu menilai saya terlalu santai dan tidak menutup kemungkinan juga orang lain melihat saya seperti itu, padahal pekerjaan yang diberikan kepada saya sudah selesai sebelum waktu yang saya janjikan. Mungkin pada dasarnya orang itu gak seneng melihat orang santai kali yaa
![]()
Hal ini (mungkin) tanpa saya sadari telah membuat orang-orang disekitar saya terpengaruh. Mereka akhirnya ikut-ikutan santai seperti yang saya lakukan, padahal porsi pekerjaan mereka belumlah selesai. Lagi-lagi, saya melakukan pembelaan terhadap mereka atas diri saya. Saya salahkan diri saya karena bekerja terlalu cepat. Saya salahkan diri saya karena terlalu menampakkan sikap santai setelah bekerja lebih cepat dari waktunya. Salahkah saya bekerja cepat dan mengambil sisa waktunya untuk bersantai? Saya sepakat dengan diri saya untuk mengatakan bahwa hal ini tidak salah, tetapi efeknya ternyata cukup fatal bagi team. Jadi –meskipun tidak sepakat dengan diri saya– saya katakan bahwa saya salah!
Oke, jangan disimpan terus kekesalannya, lebih baik tetap belajar untuk sabar dan konsentrasi untuk mengerjakan hal lain yang lebih berguna.
berkomentar pada jam 1:21 pm
tanggal 5 March 2007
“Saya sendiri sebenarnya lebih senang untuk memutuskan membagi rata hasil yang didapat dari sebuah proyek yang dikerjakan.”
Jika saya bekerja lambat, dan ditambah gak punya rasa malu thd anggota tim yang bekerja cepat.. Dooh senangnya punya bos seperti itu..
berkomentar pada jam 1:45 pm
tanggal 5 March 2007
Aduh .. masalahnya saya gak senang punya anak buah gak punya malu
berkomentar pada jam 12:50 am
tanggal 6 March 2007
Keulang lagi nih kejadiannya Yang? Sabar ya…, wajar siy kalau kamu sebel. Moga-moga ada percepatan dalam tim-nya. *jadi inget pelajaran fisika :D *
You’re my perfect speedy smart man I’ve ever had
berkomentar pada jam 10:03 pm
tanggal 6 March 2007
eh he he… tidak masalah siapa salah siapa benar… yang penting BELAJAR :D
* sori kalo komennya rada ngasal :”> gak menguasai temanya sih
berkomentar pada jam 11:04 am
tanggal 7 March 2007
mas…
dimana mana juga yang “ngak salah” tuh yang berlaku umum.
Tapi sangat setuju dengan mas (?) Bagonk BELAJAR:d KOMPROMI dengan diri sendiri.
he.. he.. he
berkomentar pada jam 11:27 am
tanggal 8 March 2007
Hehehe .. kan udah ngaku salah
Btw, mana nih … kok blog parhumbang-nya belum ada tulisan baru? Kan blognya udah keren
berkomentar pada jam 4:27 pm
tanggal 13 April 2007
[...] Atau hal lainnya, seperti melakukan kegiatan programming sambil ngobrol ngalor-ngidul, bermain catur sambil memikirkan ide atau solusi yang berhubungan dengan apa yang sedang saya kerjakan, menyetir kendaraan sambil memikirkan hal lain –weee .. yang ini BAHAYA euy!– dan masih banyak lagi. Itu pula jawabannya mengapa saya bisa melakukan pekerjaan yang secara umum lebih cepat selesai dibandingkan yang lain –meskipun dampaknya terkadang membuat saya kesal [...]
berkomentar pada jam 12:50 pm
tanggal 16 April 2007
sebenarnya hal tersebut bagus untuk diri anda, hanya saja jika kita ingin melakukan sesuatu atau memerintah sesuatu maka berikanlah sesuai porsinya. misalnya jika ada bawahan anda yang bekerja lebih cepat dan yg lebih lambat. sebaiknya anda memberikan bobot pekerjaan yang sedikit tetapi dapat dikerjakan dengan waktu yang lebih lama untuk org dgn pemikiran cepat, dan sebaliknya anda harus memberikan pekerjaan yang bobotnya ringan tapi orang tersebut anda prediksi mampu mengerjakan dengan waktu yg sama dengan orang yg berfikiran cepat tersebut. sehingga hasil outputnya sama antara orang yang rada cepat dengan yg rada lambat gitu….