Idul Fitri 1427H
Dikirim: October 23rd, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Agama, Diary | 2 Komentar »Setelah berpuasa sebulan lamanya, tibalah saatnya merayakan hari kemenangan. Kali ini Indonesia lagi-lagi tidak bisa menetapkan hari Idul Fitri secara bersama, di satu sisi inilah perbedaan yang harus kita hormati, di sisi lain kenapa yah gak bisa dibikin kompak? Saya sendiri ikut keputusan pemerintah yang telah ditetapkan tadi malam yakni tanggal 24 Oktober 2006, sementara kedua mertua saya, beberapa saudara saya dan beberapa teman saya telah merayakannya hari ini (23 Oktober 2006). Rasanya kurang “mengasyikkan” saja ketika yang lain sudah merasakan lebaran, sementara yang lain masih berpuasa atau sebaliknya.
Memang tidak bisa yah seluruh ormas Islam dan pemerintah berkumpul terlebih dahulu, bahkan diawal ramadhan bilamana perlu untuk merumuskan bagaimana tepatnya 1 syawal ditentukan, apakah pakai ruhyat atau menggunakan hisab?
Dari Ibnu Umar ra. berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bila kalian lihat hilal, maka berpuasalah. Dan bila kamu melihat hilal maka berLebaranlah. Tapi kalau tidak nampak oleh kalian, maka kadarkanlah (hitunglah).” (HR Muttafaq ‘alaihi)
Saya pribadi sejak awal hanya melihat kalender Pocket Islam yang sehari-harinya juga saya pergunakan sebagai pengingat waktu shalat. Disebutkan disana, 1 Syawal jatuh pada tanggal 24 Oktober 2006 –(kebetulan) sama dengan keputusan pemerintah. Tetapi kalau kita melihat OKI (Organisasi Konferensi Islam) yang memiliki ide hilal tidak perlu dilihat di negeri sendiri dan bisa menjadi acuan bagi negara lain, keputusannya adalah tanggal 23 Oktober 2006 –karena (katanya) di beberapa negara yang tergabung dalam OKI telah melihat hilal pada tanggal 22 Oktober 2006.
Mana dari keduanya yang benar? Saya pikir semua kembali kepada keyakinan masing-masing, tidak ada yang salah, yang terjadi adalah tidak adanya koordinasi yang baik antara pemerintah dengan ormas-ormasi Islam di Indonesia. Mudah-mudahan, perbedaan yang telah terjadi untuk kesekian kalinya ini bisa diambil hikmahnya, baik bagi pemerintah maupun bagi ormas-ormas Islam di Indonesia.
Menteri Agama Maftuh Basuni mengatakan, bahwa perbedaan itu adalah sesuatu yang wajar dan tak perlu dianggap sebagai sengketa atau perselisihan. Saya setuju, tetapi janganlah kata-kata tersebut akhirnya selalu dijadikan alasan untuk menutupi kelemahan atau ketidakmampuan Departemen Agama untuk menyatukan perbedaan penetapan 1 Syawal.
Akhir kata, semoga perbedaan 1 Syawal 1427H tahun ini tidak mengurangi makna hari tersebut.
Mohon Maaf Lahir dan Batin, Minal Aidin Wal Fa Idzin, Taqabballahu Minna Wa Minkum, Selamat Idul Fitri 1427H (23/24 Oktober 2006).
Riyogarta & Istri
Related posts:
berkomentar pada jam 8:56 am
tanggal 26 October 2006
hiks, dari 7 saudara ..saya lebarannya beda sendiri. No problem, dari sini saya menyimpulkan Islam teliti sekali dalam hal apapun, elite dan ilmiah. Tidak dogmatis.
berkomentar pada jam 11:03 am
tanggal 29 October 2006
selamat Lebaran bos… maaph lahir batin yaaa…