Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Dua Minggu Jadi Dosen

Dikirim: October 6th, 2006 | Oleh: | Kategori: Diary | 8 Komentar »

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, menjadi dosen adalah profesi yang menyenangkan. Bagaimana tidak, untuk mengajarkan sesuatu kepada sejumlah siswa dalam kelas, bukan hanya membutuhkan teknik komunikasi yang baik, tetapi juga dibutuhkan waktu dan tenaga untuk kembali mereview berbagai teori yang pernah saya dapatkan saat saya duduk di bangku kuliah. Berbagai materi yang rasanya telah ada di dalam kepala ternyata tidak cukup, semakin hari terasa semakin kurang. Jadi benar dan makin terasa apa yang dikatakan orang, “mengajarkan ilmu ke orang lain itu bukan justru mengurangi ilmu yang kita miliki, tetapi sebaliknya, justru ilmu yang kita miliki malah jauh lebih berkembang dan bertambah”.

Saya ingat ketika saya masih duduk di bangku kuliah, malas dan rasanya ingin protes ketika menghadapi dosen yang sok tahu tetapi sebenarnya tidak tahu terhadap apa yang dia terangkan. Belum lagi dosen yang tidak tahu apa implementasi dari yang dia ajarkan di kelas terhadap disiplin ilmu dari siswa-siswanya. Akhirnya, siswa hanya mengejar agar mendapat nilai yang baik dari sebuah mata kuliah sembari tidak mengerti apa tujuan dari kuliah tersebut. Dengan kata lain, lulus dari sebuah mata kuliah tanpa mengetahui untuk apa dan bagaimana teori-teori yang didapat bisa diimplementasikan dalam disiplin ilmunya.

Sekarang saya berdiri di sisi seorang dosen, tentunya saya ingin agar siswa-siswa saya tidak mengalami hal-hal yang saya ceritakan diatas. Saya ingin agar siswa-siswa saya bukan hanya mendapat nilai yang baik, tetapi juga mengerti dan bisa memanfaatkan/mengimplemetasikan ilmu yang saya ajarkan kepada mereka. Dan semua ini ternyata bukan pekerjaan yang mudah, mengapa?

  • Seorang dosen membutuhkan kemampuan untuk memotivasi dengan membuat kuliah menjadi menarik bagi seorang siswa. Bagaimana mau mendengarkan celoteh dosen didepan kelas kalau pelajarannya saja sudah tidak menarik, dan celakanya, banyak sekali materi kuliah yang menurut saya dibuat dalam satuan acara perkuliah yang membosankan. Padahal, seorang dosen tidak boleh mengajar “lari” dari SAP yang telah ditentukan kampus.
  • Dari pengamatan sekilas, saya melihat banyaknya siswa yang hanya mengejar status ketimbang menimba ilmu. Jadi, tujuannya hanyalah mengejar gelar ketimbang menjadi seseorang yang mengerti atas ilmu yang dia dapatkan sehingga bisa dimanfaatkan untuk masa depannya. Dan tidak sedikit pula diantara mereka yang memilih disiplin ilmu bukan karena suka terhadap ilmunya, tetapi karena mengikuti kemauan orang lain, baik secara terpaksa maupun secara sukarela.
  • Ketidakmampuan siswa untuk memiliki atau membeli perangkat pendukung perkuliahan. Yang lebih mengenaskan adalah beberapa diantara mereka yang mungkin mampu, malah lebih memilih untuk membeli barang gaul (barang yang dipergunakan untuk status dalam pergaulan) ketimbang membeli perangkat untuk mendukung kuliahnya. Duh.

Disisi lain, saya pun menemui kesulitan atas profesi baru saya sebagai dosen, kesulitan-kesulitan tersebut adalah:

  • Seorang dosen, diharuskan untuk menghabiskan waktu yang telah disediakan. Ah, ini ternyata cukup bermasalah bagi saya yang lebih sering memilih mengajar cepat, to the point, sehingga selesai dalam waktu yang lebih cepat dari waktu yang disediakan –itupun sudah saya selingi dengan beberapa intermeso. Kalau sudah begini, pusing juga yah? Mau diisi apa lagi? Saya khawatir kalau diisi dengan materi baru malah membuat otak mereka capek sehingga menjadi sia-sia. Akhirnya, saya memilih untuk mengakhiri kuliah lebih awal dari waktunya.
  • Kesulitan saya untuk mengingat nama-nama dari siswa saya yang cukup banyak. Duh, untuk hal ini kayaknya saya sedikit bingung untuk mengatasinya.

Wait, sudah jam 00:50, saya besok ngajar pagi dan belum membaca tamat materi yang harus saya ajarkan. Saya tidak mau mengecewakan siswa-siswa saya besok, saya harus berada di depan kelas, menguasai materi dan mengajarkan kepada mereka agar mereka mengerti sesuai dengan idealisme yang saya miliki.


8 komentar untuk “Dua Minggu Jadi Dosen”

  1. 1
    Oskar Syahbana
    berkomentar pada jam 2:09 pm
    tanggal 9 October 2006

    Wuih pak dosen! :D

    Memang agak susah mengajarkan mahasiswa zaman sekarang. Saya diangkat menjadi asisten dosen praktika sekitar 1+ tahun yang lalu dan seingat saya pada waktu itu mahasiswanya masih pada ‘nurut’.

    Sekarang setelah jalur “khusus” dibuka, jadi makin banyak saja nih yang rada – rada mbalelo huehehehe. Tapi memang itu semua berbalik lagi kepada pengajar-nya masing – masing, can s/he handle the crowd?

  2. 2
    Yuliazmi
    berkomentar pada jam 11:13 am
    tanggal 14 October 2006

    Welcome to the jungle! :D

    Untuk urusan mengingat nama (maha)siswa memang agak-agak unik. Pas bisa inget bisa ingat terus bahkan sampai dia sudah lulus. Kalau lagi apes, baru 5 menit tahu namanya juga sudah gak bisa di retrieve lagi dari memory otak.
    Kalau sudah begini paling banter ingat tampangnya saja, jadi bisa say “hai” kalau berpapasan dengan mahasiswa. :)

  3. 3
    marina
    berkomentar pada jam 7:27 pm
    tanggal 11 September 2008

    selamat ya
    wah saya jadi dosen baru 1 bulan ..tapi rasanya kayak udah 1 th
    memang gak mudah jadi dosen…
    saya sulit mengatasi grogi…tapi sudahlah….
    saya cuma berharap semoga esok lebih baik dari pengalaman yang didapat sekarang dan kemaren…itu aja..

  4. 4
    KaiToU KiD
    berkomentar pada jam 5:35 am
    tanggal 30 September 2008

    wah.. googling malah ketemu blogna om Riyo taun 2006 :P
    pengin teu gimana cara mudah jadi dosen. secara dari dulu mindsetna “gag bakat ngajar” :(

    KaiToU KiD’s last blog post..Fakultas Sains dan Teknologi di Kampus Kai

  5. 5
    zon
    berkomentar pada jam 6:11 pm
    tanggal 26 November 2009

    saya sudah hampir 1 thn jadi asdos di labor komputer, yang bikin saya jengkel ketika menghadapi mahasiswa yang ternyata baru pertama kali menjalankan komputer… :-(
    saya cuma bisa sabar dan mengerti keadaannya…hitung2 ngelatih kesabaran…
    kita bisa kan karena biasa..

  6. 6
    dapa
    berkomentar pada jam 11:45 am
    tanggal 18 June 2010

    saya mahasiswa yang memiliki keinginan untuk menjadi dosen, mohon bantuannya mengenai informasi apa saja yang harus saya persiapkan dan bagaimana jalan yang harus saya lalui, trmakasih….

  7. 7
    fitria
    berkomentar pada jam 1:45 pm
    tanggal 24 September 2011

    Saya pernah satu semester jd dosen…wah pas pertama tampil ϑî depan,groginya bukan main,malah sampe2 nada suara saya Gɑ̤̈ bs dikontrol,naik turun,timbul tenggelam. Tapi itu benar2 pengalaman berharga,walopun saat itu ilmu saya masih sangat minim. Tapi saat ilmu Ɣªήğ minim itu dibagi,dªή ternyata bermanfaat banyak bagi mahasiswa,dimana mereka Ɣªήğ Gɑ̤̈ tau sama sekali menjadi tau,saat itu juga terasa kepuasannya. Namun tentunya tetap sebagai dosen harus selalu meng-update ilmunya sehingga bisa ngasih ilmu Ɣªήğ terbaik buat mahasiswanya. Dªή sekarang saya udh pernah merasakan menjadi seorang karyawan sebuah perusahaan,dªή baru bisa membedakan kepuasan menjadi seorang pengajar dibanding menjadi seorang pegawai…seandainya masih Aϑå kesempatan saya ũήtũk bisa menjadi seorang dosen…:-)

  8. 8
    Fadilah. R
    berkomentar pada jam 10:24 pm
    tanggal 13 September 2012

    Sekarang, saya berkesempatan menjadi dosen (sementara) selama 1 semester. Saat ini saya sedang proses penyelesaian thesis. Mahasiswa yang saya hadapi, mahasiswa tahun 1, kira-kira usia terpaut 6 thn dan ada yang 3 tahun (senior). Benar-benar pengalaman yg menyenangkan. Saya belum bisa sepenuhnya wibawa, pembawaan saya masih semi formal sebagaimana layaknya dosen senior pd umumnya. Saya harus terbiasa di panggil Ibu, walau sesekali ada yg memanggil kakak. Awal mengajar, saya hanya berani duduk di kursi saja. Minggu selanjutnya, saya memberikan materi ajar dengan duduk dan berdiri saja, minggu depan baru memberanikan diri untuk menggunakan papan tulis.. :D. Terkadang suara serak dan krisis percaya diri. Sempat merasa khawatir, apakah mereka mengerti apa yang sampaikan di dalam kelas. Tetapi dengan strategi diskusi, semua teratasi. Saya mulai nyaman dan suasana kelas tidak membosankan.


Isi Komentar


  • *