Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Pengokot

Dikirim: February 25th, 2006 | Oleh: | Kategori: Uncategorized | 8 Komentar »

Saya yakin lebih dari 68% pembaca pasti tidak tahu arti kata yang menjadi judul posting ini. Saya pun mulanya tidak tahu padahal kata ini seharusnya sering kita sebut dalam kehidupan sehari-hari. Lalu apa sebenarnya arti dari kata ini?


Hari ini saya menerima email dari istri saya Yuliazmi, dia pun dapat email dari milis SMA-nya, dan seterusnya (dan ternyata sumbernya adalah dari blog Mbot’s HQ). Berikut isi email tersebut:

Benda malang ini telah lama hidup dengan nama yang sangat ambigu. Kadang memang kita menyebutnya stapler, sesuai nama aslinya. Tapi nggak jarang kita telah melekatkan nama-nama yang kurang terhormat bagi pembantu setia ini. Sebut saja misalnya CEKREKAN, CEPRETAN, JEGREKAN, bahkan ada yang menyebutnya CEPROTAN. Keterlaluan sekali bukan?
Benda ini pasti punya nama resmi dalam bahasa Indonesia. Masalahnya, namanya apa? Jawabannya ditemukan dari majalah Tempo edisi 6-12, halaman 10, dalam kolom surat pembaca. Kutipannya adalah:
…imbauan kepada seluruh masyarakat untuk memperlakukan uang rupiah dengan baik, di antaranya dengan tidak melipat, mengokot (stapling).

STAPLING = MENGOKOT. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa ternyata nama resmi untuk stapler adalah PENGOKOT.

Seandainya gue jadi si stapler, mungkin gue lebih memilih dinamain cekrekan daripada pengokot. Entah kenapa tapi yang terbayang di benak gue saat mendengar kata itu adalah sebuah benda lembek yang bau, berjamur, dan nyaris busuk. Tapi ya sudahlah. Mari bersama-sama kita gunakan istilah resmi ini, untukmempercepat proses penyerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Misalnya:
Di kantor: “Boss, ini reportnya perlu dikokot atau cukup dimasukkan ke map?”
Di tukang foto kopi: “Bang, gimana sih lu, masa mengokot aja nggak becus… kan jadi rusak fotokopian gue!”
Juga saat bercakap dengan teman: “Bawel banget sih jadi orang, lama-lama gua kokot juga tuh bibir.”

Harusnya pengokot ini berasal dari kata kokot yang artinya kurang lebih cengkram (sok tahu banget deh). Jadi pengokot adalah pelaku dari kegiatan mengokot. Kata cepretan, cekrekan dan jegrekan lebih berasal dari bunyi yang dihasilkan ketika pengokot beraksi (dengerin ajah deh kalau nggak percaya) sementara stapler diambil dari bahasa asing sebagai nama benda ini.

Jadi saya tambahkan contohnya:

“Lho ini kok belum dikokot?” tanyanya kepada tukang fotocopy.

Tukang fotocopi yang semula sudah berjalan menuju meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan kertas, akhirnya membalikkan badannya berjalan menuju orang tersebut.

“Dikokot?”, tanya si tukan fotocopy.

“Iya, saya pesen tadi pagi supaya dikokot sekalian,”

“Maksudnya diapain?” Matanya melirik kearah setumpuk kertas yang baru saja dia copy. Apakah ada yang salah dengan kopiannya atau jumlahnya yang tidak sesuai. Ah, rasanya semua sudah dikerjakan sesuai permintaan. “Sudah saya kopi semua terus maksudnya mau diapain lagi?”, tanya tukang foto kopi bingung.

“Dikokot”.

“Diapain?”

“Dikokot Pak. Dikokot”, jawabnya sambil mempraktekkan gerakan tangan seperti sedang mengokot.
“Maksudnya dijekrek?”

“Di jegrek?”, tanyanya berbalik bingung. “Bukan Pak, dikokot saja”, sambungnya dengan tetap memperagakan gerakan tangan ketika mengokot.

“Iya dijekrek”, balas si tukang foto kopi sambil memperagakan gerakan tangan ketika menjekrek.

:D


8 komentar untuk “Pengokot”

  1. 1
    yuliazmi
    berkomentar pada jam 4:01 pm
    tanggal 26 February 2006

    =))

    dan percakapan itu terus berlanjut:
    A: “Bukan Pak, dikokot…”
    B: “Maksudnya dijekrek…?!”
    A: “Bukan… dikokot, masak bapak gak tau sih…”, sewot
    B: “Gimana sih?… biasanya kan dijekrek…, maunya gimana sih…”, gak sabar
    A: “Ya dikokot dong…emang mau diapain lagi?”, semakin sewot
    B: “Yang bener… dong! kalau mau sini saya jekrek-in. Kalau gak ya udah!”, …

    =))=))=))

  2. 2
    mbot
    berkomentar pada jam 1:18 pm
    tanggal 1 March 2006

    Hi, FYI posting tentang pengokot berasal dari weblog saya, dg link http://mbot.multiply.com/journal/item/190

  3. 3
    Riyogarta
    berkomentar pada jam 8:00 pm
    tanggal 1 March 2006

    buat mbot:
    Oalaaa, seperti yang dijelaskan pada posting, saya dapat dari emal tanpa sumber … oke, akan saya tambahkan link tersebut pada posting saya :)

  4. 4
    mbot
    berkomentar pada jam 7:13 am
    tanggal 2 March 2006

    terima kasih :)>-

  5. 5
    za
    berkomentar pada jam 3:18 pm
    tanggal 2 March 2006

    aku juga dapet tuh imel….
    Hiihiii…. jadi aneh ya… pas baca”pengokot” yang muncul diimaginasi bukannya cekrekan…. tapi….???? hehehe\:d/

  6. 6
    Catatan » Sidang Akibat Tilang
    berkomentar pada jam 1:18 pm
    tanggal 5 December 2006

    […] Terakhir, bawa pengokot, karena kokotan yang menempelkan SIM/STNK di surat tilang itu gak dilepas dengan baik dan benar oleh petugas .. hihihi jadi ingat dengan pengokot […]

  7. 7
    Dwayne
    berkomentar pada jam 8:07 am
    tanggal 20 November 2014

    .

    ñïñ.

  8. 8
    Ahmad
    berkomentar pada jam 2:03 pm
    tanggal 23 July 2016

    Dalam bahasa Jawa, “kokot” artinya daki.


Isi Komentar