Burger dan Bapak Penjual Pisang
Dikirim: January 16th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | 4 Komentar »
Hari ini, ketika kami (saya dan istri) membeli Blenger Burger, kami melihat ada seorang Bapak penjual pisang yang sibuk melongok-longokan kepalanya diantara kerumunan pembeli. Entah kenapa, tiba-tiba saja kami ingin sekali membelikan Bapak itu sebuah burger.
Tanpa niat apa pun, akhirnya saya berjalan ke arah Bapak itu dan memberikannya sebuah kantong plastik berisi burger yang baru saja kami pesan. Terlihat wajahnya yang terkejut bercampur senang. Setelah membaca hamdalah, Bapak itu lalu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada saya. Saya pun kembali ke tempat duduk untuk menunggu pesanan burger sebagai penggati burger yang telah kami berikan pada Bapak itu.
Beberapa saat kemudian, sungguh kami terkejut ketika Bapak penjual pisang itu menegur saya dan memberikan sekantong plastik berisi sesisir pisang. Wow pikir kami. Tentu saja dengan berat hati kami menolak pemberiannya dan mengatakan bahwa pemberian kami itu tidak usah dan tidak diharapkan untuk ditukar. Bapak itu hanya mangguk-mangguk dan saya pun mengelus punggungnya agar Bapak itu mengerti bahwa kami tidak berniat apa pun selain membelikannya. Syukurlah Bapak itu bisa mengerti dan akhirnya pergi membawa sesisir pisang tersebut dan kami tidak melihat lagi kemana Bapak itu pergi menghilang diantara kerumunan para pembeli yang semakin banyak.
Sebuah burger mungkin bukan sesuatu yang luar biasa untuk kita. Tetapi sebuah burger bisa jadi adalah makanan yang luar biasa yang mungkin untuk sebagian orang bahkan menjadi mimpi untuk bisa menikmatinya. Dan itulah yang mungkin terjadi di sore ini. Kami senang bisa membuat orang seperti Bapak penjual pisang itu sesekali bisa merasakan makanan yang mungkin selama ini hanya menjadi angan-angannya. Kami senang melihat seyum bahagia Bapak itu ketika menerima burger dari kami. Kami senang melihat usaha Bapak itu yang dengan lugu berusaha menukar pemberian kami dengan sesisir pisang.
Mungkin hari ini adalah hari yang kembali mengingatkan kepada kami dan mungkin kita semua. Hari yang mengingatkan bahwa masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa menikmati apa yang kita nikmati saat ini. Kami hanya bisa bersyukur … terimakasih ya Allah atas rejeki yang telah Kau limpahkan pada kami. Amin.
Related posts:
berkomentar pada jam 7:11 pm
tanggal 16 January 2006
Memang mengejutkan…, masih tersisa kemuliaan dibalik keluguan bapak tersebut…, mengikhlaskan dagangannya sebagai tanda terima kasih [-o<
Moga2 sebuah burger tersebut dapat memberikan sebuncah bahagia buatnya
berkomentar pada jam 7:08 am
tanggal 18 January 2006
Burger! …. WoooW …. mmmmmaaaaauuuuu.
Seandainya si bapak itu adalah saya :o:o:o.
berkomentar pada jam 1:11 pm
tanggal 15 July 2006
ngantrinya gileeeeee… masa antrian bisa sampe ke 100, huuuuu….
berkomentar pada jam 9:23 pm
tanggal 29 July 2010
wah … jadi terharu saya dengan tindakan mas riyo dan keluarga …
… semoga keluarga mas riyo diberikan rezeki yang berlimpah