Dikirim: January 31st, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Teknoblogia | Belum Ada Komentar »
Saya sudah lama sekali meninggalkan kegiatan untuk mempelajari Linux. Beberapa hari yang lalu saya mencoba kembali menginstall dan melihat-lihat Linux Fedora Core 4, versi Redhat yang tersedia secara gratis atau tepatnya distro linux yang dipergunakan sebagai kelinci percobaan Redhat Enterprise Linux –itu kata S’to
Karena saya sudah benar-benar tertinggal, jadi saya baru tahu kalau ada command yum yang dijalankan dalam terminal (console). Dengan perintah ini, menginstall paket program menjadi lebih mudah. Hanya saja –ada tapinya nih– saya tidak merekomendasikan pada Anda yang masih menggunakan dial-up untuk akses internet-nya, kecuali Anda merasa mampu membayar pulsa yang kian hari kian mahal
Sebagai contoh, jika Anda ingin menginstall apache, mysql dan php maka Anda cukup mengetikkan perintah di terminal sebagai berikut:
jika Anda masuk bukan sebagai root, ketik
su
lalu isi password root. Setelah command prompt kembali keluar, ketikkan:
yum -y install httpd php mysql mysql-server php-mysql
** jika hanya ingin mengupdate, ganti perintah install dengan update
Selanjutnya anda tidak perlu melakukan apapun kecuali hanya menunggu proses hingga selesai.
Apakah ada versi yum yang bisa dijalankan dalam GUI? Jawabnya ada, nama paketnya adalah yumex (yum extender) yang bisa anda install menggunakan perintah pada konsole sebagai berikut:
yum -y yumex
Selamat mencoba.
Dikirim: January 23rd, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Uncategorized | 6 Komentar »
Salah satu hal yang luar biasa dari kota Bandung adalah “kehebatan” para supir taxi yang selalu menyambut kedatangan penumpang di Stasiun KA Bandung. Kalau Anda kebetulan sampai disana dan Anda tidak mengenal jalanan kota Bandung *waduh*, silakan Anda dibuat terbengong-bengong dengan harga taxi untuk jarak yang ternyata tidak seberapa. Anda bisa mengeluarkan Rp. 40.000 untuk jarak yang jika dhitung dengan argo mungkin hanya sekitar Rp. 15.000 hingga Rp. 20.000. Luar biasa toh?
Makanya saya setuju sekali dengan Dukung Masuknya Taksi Bluebird ke Bandung, petisi online yang dibuat oleh Priyadi Nurcahyo dengan pengantar dalam blognya yang berjudul Aksi Mendukung Taxi Blue Bird Bandung.
Ayoo, dukung yuk …
Cara mendukung? Gampang, klik saja ini.
Dikirim: January 21st, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | Belum Ada Komentar »
Hamdalah, RUPS berjalan lancar dan menghasilkan beberapa keputusan diantaranya adalah penentuan kapan PT. PUD direncanakan akan beroperasi. Kami sepakat untuk merencanakan PT. PUD beroperasi mulai tanggal 1 Maret 2006. Segala kebutuhan operasional telah kami serahkan kepada pemberi modal dan –hamdalah– kelihatannya mereka tidak berkeberatan untuk memenuhinya.
Oke, jadwal berikutnya adalah pertemuan untuk membahas proyek kami yang pertama tanggal 25 Januari 2006 26 Januari 2006 27 Januari 2006 30 Januari 2006 1 Februari 2006 jam 19.00 di Cut Mutia.
Dikirim: January 20th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | 1 Komentar »
Besok, Sabtu, 21 Januari 2006 mungkin akan menjadi salah satu hari yang bersejarah dalam hidup saya. Mengapa? Karena untuk pertama kalinya saya akan mengikuti RUPS, bukan sebagai pendengar atau lainnya, tetapi ikut sebagai salah satu pemegang saham perusahaan yang baru saja lahir (baca:Akhirnya 99% …).
Rencananya besok kami akan membicarakan dan merumuskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dari PT. Prakarsa Ultima Data. Mudah-mudahan besok semuanya lancar dan bisa bermanfaat bagi kita semua. Dan yang paling penting adalah, mudah-mudahan besok kita bisa menentukan kapan rencana untuk memenuhi langkah kita yang tinggal 1% itu. Amin.
Dikirim: January 18th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Uncategorized | 4 Komentar »
He he he, tulisan ini sebenarnya ditujukan sebagai rasa salut saya atas kehebatan istriku saat mengetik menggunakan Microsoft Word
. Bagaimana tidak, dia ini kalau mengetik benar-benar luar biasa canggihnya. Saya katakan canggih karena hasil ketikannya dijamin rapi dan selalu mengikuti berbagai aturan main yang seharusnya memang dipergunakan ketika menggunakan software keluaran Microsoft ini. Hasilnya, bukan hanya format apa pun bisa dia lakukan dengan cepat dan benar, tetapi berbagai perubahan signifikan dari format yang telah dibuat juga bisa dilakukannya dalam sekejap.
Berbeda dengan kebiasaan umum yang dilakukan orang ketika mengetik, istriku ini senangnya menggunakan fasiltas formatting marks. Akibatnya, kalau dia sedang mengetik selalu saja terlihat berbagai karakter formatting marks –yang saya sebut sebagai karakter aneh– pada layar editornya. Sekilas hasil ketikkanya tampak tidak rapi, tetapi ketika karakter ini kembali disembunyikan atau ketika hasil ketikkannya ini di cetak, hasilnya terlihat rapi. Dan hebatnya lagi, istriku ini benar-benar memanfaatkan berbagai fitur yang ada sehingga (rasa-rasanya) tidak ada fitur pada Microsoft Word yang tidak dipergunakan saat dia melakukan aksinya
Ini salah satu sebab mengapa ketika istriku membuat skripsi, lalu kemudian thesis dengan berbagai aturan dan format penulisan didalamnya, bisa dia kerjakan tanpa mengalami kesulitan teknis pengetikan yang berarti, meskipun sering mengalami perubahan.
Sayang memang, banyak sekali orang menggunakan software canggih dengan harga yang mahal seperti Microsoft Word, tetapi tidak menggunakan berbagai fitur yang seharusnya membuat kegiatan mengetik menjadi jauh jauh lebih mudah dan menyenangkan. Mungkin juga termasuk saya :D
Oke deh, salut buat istriku atas kehebatannya ini =d>. Saya ingin belajar juga sih … tapi bisa nggak yah kalau nggak kudu pakai karakter aneh-aneh itu :D
Dikirim: January 17th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Teknoblogia | 5 Komentar »
“Kenapa pakai Firefox?”, ini yang selalu dan sering ditanyakan dari orang-orang yang sudah terbiasa menggunakan browser IE. Dan tidak sedikit yang menjawab dengan yakin bahwa Firefox dipilih karena lebih cepat. Padahal, menurut penelitian yang bisa dibaca di Browser Speed Comparisons, browser tercepat diduduki oleh Opera 9 (yang pada saat tulisan ini dibuat masih dalam versi Beta). Bahkan, jika ditandingkan dengan IE (tentunya di OS Windows), Firefox hanya menang dalam hal kecepatannya untuk mengolah script (speed script), selebihnya IE menang cukup telak khususnya pada kriteria cold start.
Lalu mengapa di Windows saya masih juga menggunakan Firefox? Tidak menggunakan Opera yang bisa kita lihat dari hasil penelitiannya justru menjadi browser tercepat, bahkan hampir pada semua sistem operasi? Atau memilih IE yang sudah merupakan bagian dari OS Windows?
Tentu saja jawabannya bukan karena gratis. Karena Opera sebagai browser alternatif –yang juga pernah menjadi browser idaman saya– sudah menjadi browser gratis semenjak versi 8. Juga bukan karena fitur tabbed browsing, karena sebelumnya saya pun telah menggunakan IE dengan produk pembungkusnya yang memiliki fitur tabbed browsing bernama AvantBrowser. Dan juga (tentunya) bukan karena kecepatan.
Saya memilih FireFox sebagai browser utama di Windows lebih kepada sifat customize-nya yang luar biasa. Dengan mengunakan extension yang telah banyak tersedia dan bersifat gratis, Firefox seolah-olah menjadi browser yang memiliki fitur tanpa batas! Selain itu, ada juga “keisengan” orang mendevelope ulang Firefox menjadi Firefox portable sehingga kita bisa menggunakannya dimana saja tanpa melakukan installasi … woow.
Terakhir, Anda akan semakin kagum ketika mengetahui bahwa dibalik interface-nya yang apik, tersimpan teknologi XUL, sebuah teknologi yang dikembangkan oleh Mozilla untuk mendeskripsikan interface grafik. Apa dan bagaimana XUL itu? Akan saya bahas di tulisan lainnya … soalnya saya juga lagi mempelajarinya saat ini hehehe :D
Dikirim: January 16th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | 4 Komentar »

Hari ini, ketika kami (saya dan istri) membeli Blenger Burger, kami melihat ada seorang Bapak penjual pisang yang sibuk melongok-longokan kepalanya diantara kerumunan pembeli. Entah kenapa, tiba-tiba saja kami ingin sekali membelikan Bapak itu sebuah burger.
Tanpa niat apa pun, akhirnya saya berjalan ke arah Bapak itu dan memberikannya sebuah kantong plastik berisi burger yang baru saja kami pesan. Terlihat wajahnya yang terkejut bercampur senang. Setelah membaca hamdalah, Bapak itu lalu tersenyum sambil mengucapkan terimakasih pada saya. Saya pun kembali ke tempat duduk untuk menunggu pesanan burger sebagai penggati burger yang telah kami berikan pada Bapak itu.
Beberapa saat kemudian, sungguh kami terkejut ketika Bapak penjual pisang itu menegur saya dan memberikan sekantong plastik berisi sesisir pisang. Wow pikir kami. Tentu saja dengan berat hati kami menolak pemberiannya dan mengatakan bahwa pemberian kami itu tidak usah dan tidak diharapkan untuk ditukar. Bapak itu hanya mangguk-mangguk dan saya pun mengelus punggungnya agar Bapak itu mengerti bahwa kami tidak berniat apa pun selain membelikannya. Syukurlah Bapak itu bisa mengerti dan akhirnya pergi membawa sesisir pisang tersebut dan kami tidak melihat lagi kemana Bapak itu pergi menghilang diantara kerumunan para pembeli yang semakin banyak.
Sebuah burger mungkin bukan sesuatu yang luar biasa untuk kita. Tetapi sebuah burger bisa jadi adalah makanan yang luar biasa yang mungkin untuk sebagian orang bahkan menjadi mimpi untuk bisa menikmatinya. Dan itulah yang mungkin terjadi di sore ini. Kami senang bisa membuat orang seperti Bapak penjual pisang itu sesekali bisa merasakan makanan yang mungkin selama ini hanya menjadi angan-angannya. Kami senang melihat seyum bahagia Bapak itu ketika menerima burger dari kami. Kami senang melihat usaha Bapak itu yang dengan lugu berusaha menukar pemberian kami dengan sesisir pisang.
Mungkin hari ini adalah hari yang kembali mengingatkan kepada kami dan mungkin kita semua. Hari yang mengingatkan bahwa masih banyak orang di luar sana yang tidak bisa menikmati apa yang kita nikmati saat ini. Kami hanya bisa bersyukur … terimakasih ya Allah atas rejeki yang telah Kau limpahkan pada kami. Amin.
Dikirim: January 15th, 2006 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Diary | 1 Komentar »
Pernah melakukan kanibalisme terhadap barang-barang elektronik? Untuk kedua kalinya saya melakukan hal ini. Yang pertama adalah mengkanibal tray CD-ROM Creative pada jaman saya masih kost. Yang kedua adalah yang baru saja saya lakukan terhadap mouse saya (A4Tech Wireless 2HandWorks Office Dekstop).

Ceritanya, klik kiri mouse yang saya pakai sehari-hari dirumah sering error. Lalu saya putuskan untuk menukar komponen klik kirinya dengan komponen klik kanannya. Sayang, pada saat operasi dilakukan saya terlalu ceroboh mencabut komponen klik kirinya sehingga menjadi rusak total
Lalu dilembiru (di lempar dan beli baru)? Jelas tidak. Saya cari mouse yang pernah saya pakai bertahun-tahun dulu (mouse logitech), saya buka dan saya lihat apakah komponennya sama. Ternyata, alhamdulillah, —kayaknya— sama.
Akhirnya, dengan pengalaman sebagai pehobi elektronika saat di SMP/SMA dan dibantu istri saya, mouse logitech akhirnya harus pasrah menjadi korban kanibalime seperti yang terlihat pada gambar. Lingkaran merah adalah komponen yang rusak. Lingkaran berwarna biru adalah hasil komponen kanibal dari lingkaran berwarna warna hijau.
Hasilnya, mouse A4Tech bisa digunakan seperti sediakala
Recent Comments