Sepeda #2
Dikirim: December 6th, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Buah Pena | 9 Komentar »Tulisan sebelumnya : Sepeda
“Ada satu lagi Pak. kalau boleh saya akan menambahkan perumpamaan Sepeda dengan sebuah kondisi yang lain,” kataku tiba-tiba.
Bapak itu melepaskan tanganya dari pundakku. Alisnya dikerutkan seperti sedang berpikir dengan mata memandang tajam, “Silakan,” katanya.
“Sedari tadi Bapak hanya mengatakan ibarat seorang naik sepeda, bagaimana kalau tidak seorang ? Misalnya, seseorang naik sepeda sambil memboceng orang lain. Ini akan berbeda dengan kondisi yang Bapak ceritakan di awal.”
“Betul sekali. Jika suatu hari kamu menaiki sepedamu dan ada orang lain hendak membonceng di sepedamu itu, yang harus kamu lakukan adalah kamu harus memiliki keyakinan. Keyakinan yang lebih.”
“Keyakinan yang lebih ? Maksudnya Pak?”
“Iya, pertama, kamu harus yakin bahwa kamu akan kuat mengayuh sepedamu dengan beban yang lebih berat karena ada orang yang memboceng di sepedamu.”
Bapak itu menghela napas dalam, lalu berkata lagi, “Kedua, keyakinan bahwa kamu akan sanggup menjaga keseimbangan yang lebih baik, karena bukan tidak mungkin orang yang kamu boncengin malah merusak keseimbangan sepedamu.”
“Tetapi saya bisa bilang pada orang itu untuk turut menjaga keseimbangan,” kataku memotong pembicaraan.
“Itu betul. Tetapi tidak semua orang kamu kasih tahu akan langsung mau menurut bahkan ketika terbukti bahwa sepedamu jatuh gara-gara dia. Kalau sudah begini maka kamu harus tetap menjaga sepedamu agar tidak jatuh, kayuh terus dan jaga terus keseimbangan.”
“Wah … berat juga.”
“Tidak ada yang berat kalau kamu menjalaninya dengan ikhlas. Pemboceng itu bisa jadi adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu, bahkan … “, katanya tenang sambil melepaskan kopiahnya dari kepalanya yang sudah putih beruban. “Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa kamu!”
“Dan jangan lupa,” lanjutnya lagi. “Suatu hari ketika kamu sudah tidak kuat lagi mengayuh sepedamu, maka kamu akan memboceng sepeda yang dikendarai orang lain. Bisa jadi dikendarai oleh adikmu, bisa jadi kakakmu, bisa jadi istrimu, bisa jadi anakmu, bisa jadi orang tuamu.”
“Bahkan bukan tidak mungkin dia adalah bukan siapa-siapa saya,” kataku mendahului.
“Ya, benar,” katanya sambil melipat kopiahnya dan ditaruhnya diatas meja. Rambutnya yang sudah memutih di sisirnya dengan jari tangan yang mulai mengeriput dimakan waktu.
“Nak, hidup itu bagaikan kita mengendarai sepeda. Kamu masih muda, kendarai sepedamu baik-baik, ajari semua orang untuk bisa mengendarai sepeda itu dengan benar.”
Ya, Bapak ini benar. Hidup ini benar-benar seperti sebuah perjalanan dengan menggunakan sepeda. Kadang dipaksa harus belok meskipun keinginannya lurus. Kadang dipaksa lurus meskipun keinginannya belok. Ya, inilah hidup. Ikutin saja agar seimbang, kayuh terus agar keseimbangan lebih mudah dijaga, insya Allah apa yang kita inginkan diridhai olehNya.
berkomentar pada jam 7:55 pm
tanggal 6 December 2005
Sederhana, tapi dalam
Mudah-mudahan, aku jadi pembonceng yang bisa bekerja sama dan tidak menyusahkan kamu selama mengendarai sepeda. Apalagi dengan keyakinan-mu yang sangat tinggi itu
berkomentar pada jam 1:17 am
tanggal 8 December 2005
setuju, simple but deep.
filosofinya bagusss mas riyo!
berkomentar pada jam 2:31 am
tanggal 8 December 2005
iseng googling kata sepeda karena mau beli sepeda, malah dapat tulisan di blog ini. bukannya nyesel, tapi saya suka banget sama idenya mengganti filosofi perahu ke sepeda. boleh yah kalau aku pake cerita ini untuk nasehati orang
berkomentar pada jam 7:23 am
tanggal 1 November 2006
sepeda memang kendaraan ramah lingkungan yang menjadi andalan untuk mengurangi polusi di negara2 maju, saluut!
http://www.b2w-indonesia.or.id
berkomentar pada jam 8:28 pm
tanggal 25 January 2007
istri bapak cantik juga…
hehehehe…
ya ya ya ya, saya mengerti. bener banget, hidup memang seperti sepedah, ya ya ya ya ya, sangat mengerti…
tapi saya bingung harus mengungkapkannya bagaimana!!!
ya, semoga saya menjadi pengendara yang handal, yang dapat mengimbangi keseimbangan sepedah dan berhati2 dalam mengendarainya, dan semoga juga begitu dengan bapak. amin.
berkomentar pada jam 4:52 pm
tanggal 2 March 2007
Halo Riyo…. apakabar?
berkomentar pada jam 12:58 am
tanggal 3 March 2007
Hallo lagi .. apa kabah nih AHK
berkomentar pada jam 5:38 pm
tanggal 5 March 2007
kok ga ada gambarnya
berkomentar pada jam 6:41 pm
tanggal 31 March 2007
Online phentermine.
Phentermine online. Phentermine prescription online. Buy phentermine cheap online. Buy phentermine online. Buy phentermine online without prescription. Online phentermine.