Jika Sang Khalik menghendaki, maka semua manusia akan memiliki warna kulit yang sama, agama yang hanya satu, tidak ada yang namanya negara, suku bangsa dan tidak ada perbedaan. Artinya Sang Khalik memang menghendaki adanya perbedaan. Perbedaan adalah hakekat penciptaan. Perbedaan itu indah.

Komentar Buat Bp. Bambang

Dikirim: February 9th, 2005 | Oleh: | Kategori: Opini | 5 Komentar »

Sedih rasanya ketika mendengar menteri pendidikan kita, Bp. Bambang Sudibyo dalam acara Lepas Malam tanggal 9 Pebruari 2005 yang mengatakan bahwa salah satu yang membuat mutu pendidikan kita mundur adalah karena para peserta pendidikan umumnya datang dari masyarakat akar rumput. Mmm, apa iya begitu Pak ? Ketika Farhan sebagai pembawa acara mengatakan, “Bukankah Bapak sendiri adalah anak petani ?”, yang dengan kata lain pak Bambang itu juga berasala dari masyarakat akar rumput. Dengan bangganya pak Bambang bilang, “Biar anak petani tetapi Bapak saya adalah Lurah, artinya saya datang dari kaum elitis”. Ck .. ck .. ck :(


Menurut saya sih, mengapa pendidikan kita mundur bukan karena semua hal diatas. Tetapi lebih kepada kurikulum yang nggak pas untuk menghasilkan siswa-siswa yang bermutu (kecuali semua siswa jenius). Bagaimana tidak ? Hitung saja banyaknya pelajaran yang harus dikuasai siswa sekolah menengah pada masa pendidikannya, banyak sekali. Sehingga yang namanya penjurusan itu nyaris tidak ada bedanya —kalau memang begini, kenapa harus ada penjurusan ?

Hal kedua adalah mengenai image yang terbentuk bahwa anak-anak jurusan IPA lebih pandai daripada jurusan IPS. Apa iya begitu ? Anggapan bahwa anak IPA adalah siswa-siswa cerdas adalah ketika mereka hendak menginjak ke perguruan tinggi. Siswa lulusan jurusan IPA boleh mengambil fakultas jurusan apa pun. Sementara siswa lulusan jurusan IPS hanya boleh mengambil fakultas yang berhubungan dengan ilmu sosial. Ini adalah sesuatu yang tidak fair dimana siswa-siswa jurusan IPS dideskreditkan.

Ketika saya SMA, saya mengambil jurusa A1 (fisika). Hebat benar, karena A1 bisa mengambil kedokteran, sospol atau apa pun yang saya mau. Sementara teman saya, jurusan A2 (biologi) tidak bisa mengambil teknik mesin. Lalu teman saya yang lain di A3 (sosial) sungguh lebih sial nasibnya karena hanya bisa mengambil fakultas-fakultas yang berhubungan dengan ilmu sosial seperti ekonomi, sospol dsb.

Selain kurikulum, juga masalah mutu pengajar. Tetapi ini sangat berhubungan dengan masalah pendapatan guru khususnya guru-guru sekolah dasar dan menengah negeri. Bagaimana mereka mau mencurahkan segenap kemampuannya untuk memberikan pelajaran yang bermutu jika di otaknya masih bimbang mengenai kesejahteraan keluarganya ? Rasanya, tidak mungkin deh mutu pendidikan baik dengan hanya mengandalkan dan membesar-besarkan slogan “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa”. Setiap orang pasti butuh uang untuk mencukupi hidupnya.

Kurukulum, gaji guru dan yang terakhir adalah peran orang tua siswa bersangkutan yang seharusnya bisa mengarahkan putra-putrinya agar mengerti betapa penting artinya sebuah pendidikan untuk masa depannya.

Kira-kira sih begitu Pak menurut saya. Adalah tidak bijaksana menyalahkan mereka, para siswa dari golongan akar rumput sebagai penanggung jawab atas mundurnya pendidikan di Indonesia. Saya benar-benar sedih mendengarnya apalagi ketika saya ingat bahwa saya dan istri saya pun adalah orang-orang dari golongan akar rumput, lebih sedihnya lagi perkataan tersebut muncul dari seorang menteri pendidikan seperti Bapak yang seyogyanya justru mmberikan semanagt kepada mereka para golongan akar rumput agar lebih giat belajar guna masa depan bangsa ini.


5 komentar untuk “Komentar Buat Bp. Bambang”

  1. 1
    affandy
    berkomentar pada jam 1:21 pm
    tanggal 23 January 2007

    Terang aja pendidikan kita gak maju2
    Menterinya aja kalo kasih statement kayak gak mikir [-(

  2. 2
    yoza anshori
    berkomentar pada jam 10:26 am
    tanggal 22 April 2008

    sundul lagi ah

    memang sekarang ini kurikulum pendidikan di indonesia gA asik
    guru2 yang kreatif dan kompeten sangat minim

    tanya kenapa?

    indonesia mungkin gengsi yah kalo harus mengadopsi kurukulum negara lain yang lebih baik

    seharusnya minat dan bakat pelajar lebih dimaksimalkan
    agar potensi mereka berkembang

    membuat standar pendidikan adakalanya membuat potensi siswa/pelajar menjadi kurang optimal/terhambat
    :dancing:

  3. 3
    jens
    berkomentar pada jam 12:47 pm
    tanggal 19 June 2008

    :-? :-? emang itulah indonesia kita…hayo semangat,,giliran kita generasi muda untuk berkarya(lebih baik lo ya)

    opini dan blognya bagus2…ikutan nulis dong di

    goblue.or.id

    ini site buat share segala info ttng pelestarian lingkungan…..bisa tanya2 juga kokk,plus liat foto2 keindahan laut indonesia..

    salam kenal

    SALAM GO BLUE

  4. 4
    holilah
    berkomentar pada jam 8:41 pm
    tanggal 5 September 2010

    alah sekarang buat apa pendidikan itu kalau ilmu itu sendiri tidak pernah berguna bagi oarang nya..CONTOHNYA SAJA
    walaupun uda mati matian ikut tes PNS tapi tetap aja ga lulus karna tidak punya UANG BUAT NYOGOK.yang bodoh saja bisa lulus karna banyak UANG NYA….jadi buat apa pinter2 kalau semuanya bisa dikendalikan oleh UANG….
    Bagi ku ini sungguh tidak adil kami yang berjuang menuntut ilmu dengan segala kekurangan sampe sekarang tidak dapat pekerjaan yang baik karna kami tidak punya UANG DAN TIDAK MAMPU UNTUK NYOGOK…
    jadi rakyat indonesia yang tidak mampu tetap aja hidup susah dan yang punya UANG akan tetap bahagia……

    INI MEMANG TIDAK ADIL

  5. 5
    francisco
    berkomentar pada jam 12:19 pm
    tanggal 20 November 2014

    .

    áëàãîäàðåí!


Isi Komentar